Breaking News
(Foto : Davy Byanca)

Dunia Adalah “Penjara”

(Renungan 10 Malam Terakhir Ramadhan)

Oleh: Davy Byanca

(Foto : Davy Byanca)

Ketika mengunjungi penjara, baik pada saat berdzikir bersama para ustadz dari Majelis Azzikra, maupun dalam kapasitasku selaku advokat, aku menemukan begitu banyak kemunafikan, ketidakadilan dan pemerasan di sana.

Pernah suatu ketika, aku berbicara dengan seorang napi yang dijatuhi hukuman penjara 6 tahun karena dituduh korupsi. Kami begitu cepat akrab, mungkin dia pikir aku seorang ustadz yang dapat memberikan pencerahan kepadanya.

Awal pembicaraan, penuh dengan gerutuan ketidakadilan yang ia alami, mengapa cuma dirinya yang dihukum, mengapa atasannya tidak dihukum, bahkan sebagai saksipun tidak. Dia merasa dirinya adalah tumbal, kambing hitam sebuah kekuasaan.

Setelah ia mengetahui bahwa profesiku seorang advokat, ia pun berkata, “Bang, saya ingin memberitahu pada abang bahwa saya tidak melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan kepada saya. Saya tidak bersalah. Tapi saya juga sadar, pasti abang sudah bosan mendengar kata-kata ini, karena setiap penjahat selalu berkata hal yang sama. Tapi kali ini, saya minta abang percaya sama saya, saya tidak berbohong.”

Hmm … naluriku berkata orang ini tidak bersalah. Otak pengacaraku mulai berputar untuk mencari keadilan bagi orang ini. Namun tiba-tiba ia menyela, sebelum pikiranku jauh melayang.

Dengan tersenyum ia berkata, “Tapi bang, ada banyak kejahatan lain yang saya perbuat, tapi saya tak tertangkap. Jadi saya kira apa yang terjadi sekarang ini memang adil.”

Aku pun tertawa, dia juga tergelak, seluruh badannya yang gemuk ikut bergoyang mengikuti irama tawanya.

Tapi di balik itu semua, napi ini telah memberikan sebuah pelajaran berharga bagi diriku. Coba bayangkan, betapa seringnya kita melakukan “kejahatan,” yang begitu melukai, tapi kita tak dibuat menderita olehnya?

Jika itu terjadi, pernahkah kita berkata, “Ini tidak adil! Mengapa aku tidak ditangkap?” Tapi jika kita dibuat menderita oleh suatu alasan yang tak jelas, belum-belum kita sudah mengaduh dan mengerang, “Ini tidak adil! Di manakah keadilan, mengapa harus aku?”

Dalam berbagai kunjungan lainnya, aku selalu katakan kepada mereka yang sedang berada di dalam penjara bahwa mereka bukanlah penjahat, melainkan seseorang yang telah melakukan suatu tindakan kejahatan.

Menurut saya, istilah “penjara” itu sendiri bukanlah hal yang menakutkan bagi orang yang beriman. Pasalnya, mereka faham bahwa selama hayat masih di kandung badan, hidup mereka terkungkung dalam “penjara dunia.”

Bukankah karya-karya besar di dunia ini banyak lahir dari pemikiran orang-orang besar selama di penjara. Sebut saja Sayyid Qutub, Hasan al-Banna, Soekarno, Tan Malaka dan Hamka.

Rasulullah saw bersabda, “Dunia ini adalah penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Untuk itu, siapkah Anda menjalani kehidupan “penjara” selama berada di dunia? Pandanglah wajah Anda di cermin setiap pagi, sadarkan muka yang ada di dalam cermin itu bahwa, “Kita sesungguhnya sedang hidup di dalam penjara!”

Aku –
yang terpenjara dalam kubangan dosa …

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *