Breaking News
(Foto : Istimewa)

Second Opinion

Oleh: Setiardi Reborn

(Foto : Istimewa)

Saya menempatkan masalah kesehatan menjadi ‘soal mahapenting’. Itu sebab saya selalu meminta beberapa ‘second opinion’ sebelum yakin atas satu tindakan medis. Kecuali sangat jelas, atau super urgent. Ini belajar dari pengalaman buruk yang hampir menimpa anak sulung saya.

Ceritanya, tahun 2002 lahir anak sulung, Mas Seno. Dalam usia 7 hari harus dirawat di NICU rumah sakit karena masalah pencernaan. Setelah keliling Bekasi dan Jakarta, akhirnya dapat ruang di salah satu rumah sakit plat merah. Rumah sakit yang besar dan lengkap. Singkat cerita, team dokter –spesialis anak, bedah anak dan spesialis pendukung, memutuskan untuk segera operasi. Rektum akan dipotong, dan dibuatkan saluran pembuangan kotoran lewat perut.

Mendengar saran team dokter saya seperti tertimpa batu besar. Tapi tak serta merta percaya. Saya cari second opinion ke dokter lain. Setelah melihat bayi, data dan foto rontgen, kesimpulannya sama: harus operasi! Lagi-lagi saya tak langsung percaya. Saya gelar sajadah, bermunajat pada Sang Pencipta. Bernazar demi kesembuhan jabang bayi.

Tuhan memberi jalan. Seorang teman merekomendasikan nama dokter ahli pencernaan anak, yang juga Guru Besar di FKUI. Namanya Prof Agus Firmansyah. Beliau praktek di RS Hermina Bekasi. “Bayi sehat begini mau dioperasi? Ah, murid-murid saya itu payah. Ini namanya kolik. Nanti juga sembuh sendiri,” ujar Prof Agus, dengan senyumnya yang super-jenaka.

Benar saja. Anak sulung saya sehat walafiat. Hingga sekarang. Tak terbayangkan betapa rusaknya jika rektumnya dipotong, dan dibuatkan saluran pembuangan feses lewat perut. Saya pun ketika itu memenuhi nazar: menyembelih seekor sapi, dan membagikan dagingnya.

Kini sedang hot soal vaksin covid-19. Indonesia menyiapkan vaksin dari Sinovac. Made in China. Soal ini saya pun tak mau gegabah. Saya akan cari ‘second opinion’ ke pakar yang hebat, jujur dan independen.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur