Breaking News

Benarkah Ada Kebangkitan Radikalisme Di Indonesia?

 3008161312_bahaya-radikalisme-disosialisasikan-di-
thayyibah.com :: Akhir-akhir ini, benak saya terusik dengan berbagai opini yang disuarakan secara gencar oleh sejumlah kalangan. Akademisi, insan media, selebtwit, artis, dan sederet manusia populer, ramai-ramai menyuarakan keprihatian bertajuk: bangkitnya radikalisme di Indonesia. Berbagai cara dilakukan untuk meyakinkan rakyat, nih, ada bahaya yang sangat mengerikan. Bahaya kebangkitan kaum radikal yang perlu ditangkal. Kalian semua bakal dapat masalah segede gaban, jika tidak segera mengantisipasi dan melawan kebangkitan kaum radikal ini!

Well, mungkin, keprihatinan tersebut berlatar belakang pada kemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI kemarin. Sejumlah kalangan tersebut, menuduh bahwa kemenangan Anies-Sandi terjadi karena dukungan kaum yang dituduh radikal itu. Dan karena dukungan tersebut, Indonesia sedang mengalami fase gawat darurat, sebab gubernur yang diusung kalangan radikal itu, ternyata berhasil memenangkan pertarungan di tempat yang sangat strategis: ibu kota.

Demonstrasi

Sekali lagi, tesis yang mereka angkat adalah: Indonesia sedang memasuki fase gawat darurat karena kebangkitan kaum radikal!

Tesis yang sangat mengerikan, bukan? Tak hanya bikin bulu kuduk merinding, tetapi opini tersebut berpotensi menjadi labelisasi massal untuk ratusan juta kaum Muslimin di seluruh Indonesia. Kalangan muslim yang santun dan hidup damai berdampingan dengan agama lain, tiba-tiba distigmatisasi sebagai sobat kentalnya ISIS yang antidemokrasi, fundamentalis, radikalis dan ekstrimis.

Ada dua pertanyaan yang berkelit kelindan di benak saya. Siapa sebenarnya kaum radikal tersebut? Dan Betulkah telah terjadi kebangkitan kaum radikal di Indonesia? Yuk, kita diskusikan!

Kita bahas yang pertama dulu ya. Biar runtut, mari kita mulai definisikan, apa itu radikal. Dalam KBBI, radikal dan radikalisme diartikan sebagai berikut:

radikal1/ra·di·kal/ a: 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

radikalisme/ra·di·kal·is·me/ n: 1 paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik

Radikalisme  sering disinonimkan dengan fundamentalisme, dan diterjemahkan dalam bahasa awam sebagai aliran garis keras yang menginginkan adanya perubahan dengan cara ekstrim sesuai dengan keyakinan yang mereka inginkan. Nah, karena radikalisme ini banyak dikaitkan dengan kalangan Islam, maka terlontarlah tuduhan, bahwa gerakan radikalisme Islam ini ingin mendirikan negara Islam yang berbasis syariat di negeri ini secara paksa.

Kalau bicara radikalisme, mau tidak mau, kita akan merujuk pada teori Samuel Huntington (1997) yang dikenal dengan tesis Clash of Civilization. Huntington memandang, bahwa radikalisme dan terorisme itu seruang dan sebangun. Dan, menurutnya, terorisme sebenarnya merupakan benturan dua peradaban utama di dunia: Islam vis a-vis Barat. Bahwa memang akan ada struggle for power—perebutan kekuasaan antara kalangan Islam vs Barat yang memperebutkan hegemoni dunia.

Kalau dirunut dari teori tersebut, berarti secara tersirat, mereka sedang menuduh bahwa kemenangan Anies-Sandi juga ditunggangi kekuatan terorisme. Waduh, makin parah, ya…

Cukup menarik untuk dibahas adalah tulisan Saiful Mujani (2007), dalam bukunya yang berjudul Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru, yang diterbitkan oleh Gramedia. Menurut beliau, Islam Radikal di Indonesia sebenarnya bukan fenomena yang genuine lahir di Indonesia, namun sangat dipengaruhi oleh pergerakan Islam di Timur Tengah. Keberadaan gagasan “Islamisme” yang mereka bawa pun tidak sepenuhnya mencerminkan ke-Indonesia-an. Nah, sekarang kita jadi paham, ya, kenapa muncul ide-ide Islam Nusantara. Maksudnya mungkin (CMIIW), Islam yang berkembang saat ini bukanlah Islam yang digali dari budaya Nusantara, bukan Islam yang dikembangkan walisongo dan dai-dai NU atau Muhammadiyah, namun “Islam Import” yang dipengaruhi berbagai harakah di Timur Tengah.

Nah, “Islam Import” yang bercorak radikalisme ini, ditengarai berkembang pesat di masyarakat kita, dan bahkan mampu mengegolkan Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur di ibu kota. Ini merupakan alarm berbahaya! Begitu isu yang terus dihembus-hembuskan. Lama-lama, isu ini menjadi semacam paranoid alias Islamofobia yang berkembang dan sengaja kipas-kipaskan agar membesar.

Siapa sebenarnya yang menjadi representasi gerakan radikal tersebut? HTI? Well, HTI yang berasal dari gerakan transnasional dan didirikan oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani di Palestina pada 1953 ini memang berkembang pesat di Indonesia, tetapi, berapa sih jumlah mereka? Di kampus-kampus, yang dianggap sebagai lumbung kaderisasi, mereka juga bukan mayoritas. Di masyarakat, lebih tak dikenal lagi. Lebih lanjut lagi, apakah HTI radikal? Dari segi pemikiran mungkin iya. Tapi, saya cukup lama berinteraksi dengan teman-teman dari HTI. Mereka tak pernah menggunakan kekerasan dan cara-cara teror dalam menebarkan apa yang menjadi fikrahnya.

FPI? Betulkah FPI merupakan representasi gerakan radikal? FPI memang memiliki massa, perannya dalam mendukung Anies-Sandi juga cukup besar, tetapi kita terlalu sulit untuk mengukur, seberapa besar kekuatan FPI, dan apakah FPI-Effect mampu mengumpulkan 58% suara orang Jakarta? Sepertinya tidak! Saya memang tidak terlalu paham anatomi-fisiologi-taksonomi FPI. Tetapi saya bisa mengira-ira, FPI mendapat penentangan keras dari berbagai elemen masyarakat karena mengklaim diri berkonsentrasi dalam gerakan ‘nahy munkar‘.

PKS? Betulkah PKS adalah gerakan radikal? PKS memang sering dikait-kaitkan dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Hamas Palestina. PKS juga merupakan gerakan dakwah yang berkembang pesat di masyarakat. Namun saat ini, justru saya melihat, saat ini ada upaya kuat dari PKS untuk melebur dan melakukan “Indonesianisasi” dalam nafas gerakannya.

Jikapun HTI, FPI dan PKS dianggap tetap radikal—ya mungkin ada yang ngotot menuduh begitu, saya tetap tidak yakin bahwa mereka “cukup besar” untuk bisa mengumpulkan 58% suara di Pilkada DKI.

Well, jadi, sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia? Bukan gerakan radikalisme yang bangkit dan mendominasi. Namun memang sejak seabad silam, percaturan politik Indonesia memang selalu diisi oleh dinamika persaingan antara kalangan nasionalisme Islam dan nasionalisme sekuler. Menarik sekali komentar seorang teman, Ganjar Widhiyoga, kandidat P.Hd dengan konsentrasi Government and International Affairs di Durham University, UK. Menurutnya, rivalitas dua kalangan ini telah terjadi sejak zaman pergerakan nasional.

Begini komentar Ganjar, “Persaingan antara kelompok nasionalis Islami dan nasionalis sekuler sudah ada sejak masa kemerdekaan, memuncak di Konstituante. Sejak Demokrasi Terpimpin sampai Orba, aparat negara dipegang oleb mereka yang cenderung berseberangan dengan aktivis nasionalis Islam.”

Berlebihankah komentar Ganjar? Tidak! Kalangan Islam ikut berjuang keras memerdekakan, mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan, memakmurkan kemerdekaan. Namun, sampai saat ini, tetap saja mereka termarjinalkan dari kekuasaan. Bahkan, jika mau jujur, marjinalisasi itu sudah sampai pada tahap penghilangan eksistensi kalangan Islam. Coba lihat rentetan sejarah ini!

1905 Syarikat Dagang Islam berdiri, yang diakui sebagai kebangkitan nasional adalah Budi Utomo (pribumi ningrat)

KH Ahmad Dahlan mendirikan banyak sekolah Muhammadiyah, yang dijadikan bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara (nasionalis)

KH Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, KH Wahid Hasyim ikut terlibat menggodok piagam Jakarta, namun yang dikenal sebagai pencipta Pancasila adalah Bung Karno (nasionalis )

Resolusi Jihad Syekh Hasyim Asy’ari menyebabkan para pemuda rela menyumbang nyawa demi tegaknya proklamasi, namun tetap saja yang banyak disebut-sebut sebagai pendiri negara adalah Sukarno Hatta.

Dewan Konstituante dibubarkan oleh Bung Karno, lalu Masyumi diciduk, dibubarkan, tokoh-tokohnya dipenjarakan.

Di orde baru kalangan Islam mendapatkan “neraka” di mana eksistensi benar-benar dipasung. Rezim Orba yang represif telah membuat para nasionalis Islam tiarap.

Nah, di Orde Reformasi, kekuatan Nasionalis Islam kembali bangkit. Di Pilkada DKI, mereka mendapatkan momentum untuk bersatu dalam satu barisan, dan menang!

Jadi, Pilkada DKI bukan hasil dari kebangkitan kaum radikal transnasional. Ini adalah kemenangan dari perjalanan panjang selama 112 tahun sedang berdirinya Sarikat Dagang Islam. Percayalah, mereka bukan orang-orang yang tidak pancasilais. Bahkan, spirit pancasila yang murni—dalam artian tidak dikotori kapitalisme-liberalisme maupun sosialisme-komunisme, sesungguhnya ada di dada mereka, dan menyatu dalam jiwa mereka. Mereka juga tidak antidemokrasi. Buktinya, kalangan ini juga ikut berjuang di parlemen dan membentuk partai-partai politik.

Tak usah terlalu curiga pada kalangan Islam. Hampir 6 abad Islam tumbuh sebagai mayoritas di negeri ini, dan tak pernah ada genosida, pembantaian umat lain, atau penganiayaan atas nama agama. Bahkan toleransi terus dikembangkan. Salah satu contoh, di Kudus, salah satu pusat Dakwah Islam masa Walisongo, sampai sekarang sebagian masyarakat tidak mengonsumsi daging sapi, karena menghormati masyarakat Hindu saat itu.

Tak usah terlalu khawatir adanya kekuatan ISIS dengan doktrinnya yang mengerikan. Coba tanyakan kepada mereka-mereka yang dituduh radikal, rata-rata mereka membenci ISIS. Islam di Indonesia bukanlah ISIS, dan semua antiterorisme. Maka, jangan lantas mengembus-embuskan isu bahwa ISIS, teroris, kaum bumi datar, fundamentalis, kaum sumbu pendek dan sebagainya… sedang berjaya di negeri ini. Setuju?. []

Afifah Afra – (Penulis, Pengurus IKAPI dan Pegiat FLP)

About A Halia