Breaking News
Cinta Allah, Cinta Rasul

Atas Nama Cinta

Cinta Allah, Cinta Rasul
Cinta Allah, Cinta Rasul

 

thayyibah.com :: Saudaraku yang dirahmati oleh Allãh Subhânahu wa Ta’âla, Apabila saya bertanya kepada Anda: “Apakah Anda mencintai Allāh dan Rasul-Nya?”

Saya pastikan Anda akan mengatakan: “Ya, saya mencintai Allāh dan Rasul-Nya.”

Bukankah cinta itu butuh pembuktian? Dan salah satu pembuktian, benar atau tidaknya kita mencintai Allāh dan Rasul-Nya adalah apa yang dikatakan oleh ‘Abdullāh bin Mas’ūd radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.

Beliau pernah menyatakan: “Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka tanya kepada dirinya; seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm.”

Seperti apa ketertarikannya dengan Al Qurānul Karīm? Sebanyak apa ayat yang ia baca? Dan seberapa besar animonya dalam mempelajari tafsir dari ayat-ayat tersebut?

Dan begitu juga: “Barangsiapa ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka coba tanya dirinya; sedalam apa ambisinya utuk mempelajari hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. ”

Semenarik apa hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu di matanya? Mungkin anda bertanya, “Apa korelasinya?” Saya akan memberikan analogi sederhana tentang masalah ini.

Misalnya: Apabila seseorang mendapatkan pesan dari orang yang ia cintai yang sedang tinggal di luar daerahnya atau sedang dinas di kota lain, kemudian ia mendapatkan SMS atau pesan singkat yang lain.

Pertanyaan saya: “Apakah ia langsung antusias dan membacanya? Atau akan ia pending, mungkin 3 minggu lagi kalau ingat, baru ia buka pesan itu?”

“Bagaimana perasaan seorang ibu atau seorang ayah, ketika anaknya yang ia cintai dan rindukan sedang studi di luar negri, lalu anak itu menyampaikan pesan kepadanya.

Apakah dia akan langsung membacanya? Atau dia akan pending dan kalau dia ingat baru ia buka pesan dari anaknya tersebut?”

Saya rasa kita semua sepakat jawabannya: “Dia akan langsung membuka, membaca dan akan langsung menikmati pesan dari orang yang ia cintai tersebut.”

Seorang ibu ketika mendapatkan pesan singkat dari anaknya dia langsung buka pesannya. Seorang istri ketika mendapatkan email dari suaminya dia akan buka email tersebut. Kenapa? Karena mereka mencintai orang yang menulis surat itu kepadanya.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Itulah yang dilakukan seseorang atas nama cinta. Lalu, mari kita tanya diri kita: “Apakah Allāh pernah memberikan pesan kepada kita? Dan pernahkah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan pesan kepada kita?”

Jawabannya, “Banyak.” Bukankah ayat Al Qurān adalah pesan-pesan Allāh kepada kita? Dan bukankah hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah pesan-pesan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita? Maka apabila kita benar-benar mencintai Allāh dan Rasul-Nya, maka pasti kita akan tertarik membaca pesan-pesan tersebut.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Coba kita kembangkan analogi di atas. Apabila pasangan kita sedang bekerja di Timur Tengah, lalu dia menulis surat dengan bahasa Arab. Ketika kita buka email atau pesan tersebut, kita tidak paham apa makna dari kata demi kata tersebut. Apakah kita pasrah? Atau kita akan cari orang yang bisa men-translate (menterjemahkan) agar kita mengerti apa maksud dari bahasa atau pesan dengan bahasa Arab itu?

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Pesan Allāh dan Nabi-Nya shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan bahasa Arab.

Ketika kita membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Lalu kita tidak paham maknanya apakah kita akan pasrah? Atau kita cari orang yang bisa menjelaskan dan menafsirkan “Iyyāka na’ budu wa iyyāka nasta’īn” ?

Ketika kita membaca:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ

Lalu kita tidak paham apa itu “Ash Shamad”, apa itu “Qul huwallāhu ahad”, apakah atas nama cinta kita akan pasrah? Atau kita akan berusaha mencari makna dan tafsir dari ayat tersebut?

Terapkanlah demikian. Orang yang sedang jatuh cinta punya tabiat ingin mengetahui segala hal dari orang yang ia cintai. Bagaimana dengan orang yang jatuh cinta dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam? Tidakkah ia penasaran dengan apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka dan apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam benci?

Apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka adalah perintah-perintahnya dan apa yang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam benci adalah larangan-larangannya. Ketika kita mencintai Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidakkah kita ingin tahu apa yang Allāh suka dan apa yang Allāh benci?

Apa yang Allāh suka adalah perintah-Nya dan yang Allāh benci adalah larangan-larangan-Nya. Kalau kita tidak punya ketertarikan, tidak punya rasa penasaran, kita tidak tertarik untuk membaca pesan dan mempelajari hal-hal itu semua, maka: “Kita tidak cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan Rasul-Nya shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Ingat kembali perkataan Ibnu Mas’ūd di atas: Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka tanya kepada dirinya seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm. (put/thayyibah)

About Lurita

Online Drugstore,cialis next day shipping,Free shipping,order cialis black,Discount 10%, dutas buy online