Oleh : Fajruddin Muchtar

Dua kali allahyarham Bapak berkunjung ke Iran. Perjalanan pertama bersifat pribadi; Bapak bersama Mamah datang menengok saya dan istri yang baru saja pindah ke rumah di daerah Zambilabad. Kunjungan kedua bersifat resmi, saat beliau diundang menghadiri Konferensi Persatuan Umat Islam di Teheran.
Bagi seorang ulama dan kiai, keputusan menyekolahkan anaknya ke Iran tentu dinilai “nyeleneh” dan membutuhkan keberanian besar. Sangat sedikit orang tua yang berani mengambil langkah ini karena konsekuensinya tidak mudah—fitnah yang hantamannya sangat besar, bahkan masih mengalir hingga sekarang. Namun, keputusan itu sebenarnya lahir dari prinsip mendalam yang sudah beliau pegang teguh jauh sebelum menginjakkan kaki di Iran. Bapak dikenal sebagai ulama yang konsisten menggalang mazhab ukhuwah. Bagi beliau, siapa pun kaum muslimin yang bersyahadat dan berkiblat ke Baitullah adalah saudara. Di media sosial, prinsip ini teguh beliau pertahankan; ada satu status Facebook Bapak yang menegaskan bahwa dibayar berapapun, beliau tidak akan pernah melepaskan sikap ukhuwah tersebut.

Kendati memegang prinsip yang kokoh, Bapak tetap seorang ayah yang bijaksana sekaligus realistis dalam melihat situasi. Sepulang saya dari Iran, beliau memberikan nasehat mendalam: “Jangan terlalu menampakkan,” katanya suatu waktu. Jujur saja, bagi saya yang saat itu masih muda dan sedang membara-baranya, nasehat untuk menjaga persatuan dengan cara menahan diri itu sangat sulit dilakukan.

Perjalanan ke Iran itu sendiri pada akhirnya meninggalkan bekas yang sangat mendalam di hati kedua orang tua saya. Salah satu kenangan paling membekas adalah saat kami berkunjung ke rumah Imam Khomeini. Dalam tiap kesempatan, Bapak selalu menceritakan kembali kesederhanaan rumah sang Imam serta kedalaman spiritual kehidupan beliau. Saking membekasnya, inspirasi itu diwujudkan secara fisik dalam pembangunan rumah di Ciburial. Di sana, Bapak sengaja membuat kamar yang ukurannya dipesan khusus agar tidak lebih besar dari rumah Imam Khomeini. Persis seperti di Iran, kamar itu dirancang terhubung langsung dengan ruangan tempat beliau shalat sekaligus mengajar.

Bagi Bapak, kekaguman pada Imam Khomeini tidak berhenti pada replika fisik rumah atau cerita pengantar tidur. Warisan spiritual itu melangkah lebih jauh ke ranah ideologis. Atas arahan dan pesanan langsung dari Bapak, kitab 40 Hadis karya Imam Khomeini secara resmi dimasukkan ke dalam kerangka kurikulum di Babussalam.
Di momentum haul Imam Khomeini ini, saya menyadari bahwa rumah di Ciburial dan kurikulum di Babussalam adalah saksi bisu bagaimana Bapak, dengan segala keberaniannya, menjembatani ukhuwah dan menanamkan kedalaman pemikiran itu kepada kami semua.
Thayyibah