Breaking News
Brosur VSI, cara Yusuf Mansur merekrut korbannya (Foto : Istimewa)

Yusuf Mansur itu Penipu!

Kesaksian Marketing Condotel Moya Vidi

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

 

Brosur VSI, cara Yusuf Mansur merekrut korbannya (Foto : Istimewa)

 

Senin (13/1) Pekan lalu, pengacara Asfa Davy Bya melayangkan somasi kepada Yusuf Mansur. Davy mendapat kuasa dari lima orang investor yang merasa dibohongi oleh Yusuf Mansur. Mereka adalah para investor Contotel Moya Vidi yang katanya akan dibangun di Jogjakarta, tahun 2014. Setelah somasi pertama dilayangkan, beberapa investor baru tanpil ke permukaan, ikut memberi kuasa kepada Asfa Davy Bya. Somasi kedua pun siap-siap dilayangkan pada pekan ini.

Adanya somasi yang ditujukan kepada Yusuf Mansur itu membuktikan bahwa kasus-kasus yang menimpa penceramah sedekah ini bukanlah omong kosong belaka. Tetapi ini menujukkan bahwa kasus-kasus tersebut adalah fakta nyata. Dalam kasus penipuan ini, ada sejarah cukup panjang yang menimpa Yusuf Mansur. Pada akhir 2009 ia mengajak jamaah yang berduit untuk berbisnis batu bara. Hanya bertahan 3 bulan, awal tahun 2010, bisnis batu bara bermasalah. Uang nasabah puluhan milyar rupiah tidak jelas penyelesainnya.

Setelah gagal total di batu bara, pada tahun 2012-2013, ia mengajak jamaah berpatungan usaha dan patungan aset, untuk membeli hotel Siti di Tangerang, Banten. Juli 2013, Otoritas Jasa Keuangan menjewer Yusuf Mansur, karena pengumpulan dana masyarakat haruslah berbadan hukum, PT atau yayasan. Waktu itu Yusuf menampung dana investor lewat rekening pribadinya dengan nama aslinya Jam’an Nurchotib Mansur.

Di tahun 2013-2014 Yusuf juga mengajak jamaah berinvestasi di Condotel Moya Vidi di, juga Nabung Tanah (2014-2015) yang menyasar para tenaga kerja Indonesia di Hong Kong, dan seterusnya. Nabung Tanah itu katanya untuk membangun hotel di Malang. Sampai hari ini, tanah dan hotel yang dimaksud tidak pernah ada wujudnya. Di tahun yang sama, awal tahun 2014, Yusuf gencar juga memasarkan Veritra Sentosa Internasional (VSI) yang berubah nama menjadi PayTren. Peran dan fungsi VSI sama dengan PayTren, aplikasi pembelian atau pembayaran berbasis online. Untuk menjadi anggota di VSI, ada paket basic yang Rp 275.000 sampai Titanium yang per paketnya Rp 8.525.000. Sistem kerjanya VSI (maupun PayTren) persis seperti MLM, makin banyak anakbuah di bawah dan aktif berbelanja atau menggunakan jasanya, maka yang diuntungkan adalah mereka yang punya kaki-kaki di bawah.

Salah satu agen, baik untuk VSI maupun untuk Condotel Moya Vidi adalah Hilda, seorang TKI di Hong Kong. Hilda ini bertambah semangat setelah pada 17 Maret 2014 Yusuf Mansur bersama rombongan datang ke Hong Kong dan mengajak para pahlawan devisa itu berinvestasi di Condotel Moya Vidi, dan jadi anggota VSI. Cita-cita Yusuf Mansur waktu itu akan menjadikan VSI sebagai komunitas dengan anggota sebanyak 10 juta orang, lengkap dengan iming-iming smartphone dan sejenisnya.

Hilda sendiri adalah salah seorang Star Leader VSI Hong Kong dan sekaligus eksekutif marketing Condotel Moya Vidi. Hilda tidak sekedar marketing, tetapi ia juga ikut berinvestasi. Untuk VSI, dia ambil dua paket Titanium senilai Rp 17 juta plus investasi di Condotel Moya Vidi sebesar Rp 36 juta. Setelah Yusuf Mansur pulang ke tanah air, barulah mereka membuka aplikasi VSI. Ternyata aplikasi tersebut tidak bisa dibuka. Hilda pontang-panting menghubungi Yusuf Mansur dan orang-orang VSI, tidak pernah mendapat jawaban yang jelas. Begitu pula tentang nasib Condotel Moya Vidi juga tak lagi bisa diakses webnya. Berikut adalah kesaksian Hilda tentang bagaimana ia tertarik untuk ikut dalam proyek bodong yang dilakukan Yusuf Mansur:

“Saya punya komunitas pengajian, juga teman-teman yang lain. Dari jamaah pengajian inilah kami dipertemukan dengan Yusuf Mansur yang selalu menyarankan untuk bersedekah. Karena ia seorang ustadz, kami memandangnya positif saja. Karena kamimpunya jamaah, maka jadilah kami sebagai Star Leader VSI Hong Kong dan sekaligus eksekutif marketing Condotel Moya Vidi dengan menyasar para TKI di Hong Kong. Tetapi semuanya itu tidak gratis, saya juga bayar, berinvestasi, sebagaimana orang-orang lain. Saya punya leader, namanya Widi Juniardi, orang Surabaya. Tetapi pak Widi ini sudah tidak bersama Yusuf Mansur, lagi.

Mereka yang ikut VSI maupun investasi di Condotel Moya Vidi juga dikenakan sedekah paksa, sebesar Rp 300.000 per bulannya untuk Daarul Quran (Daqu). Ada iming-imingnya, akan diberi kemudahan jika mau memasukkan anaknya ke Daqu, sebagai santri. Semuanya gratis, katanya. Faktanya, tidak seperti yang diomongkan oleh Yusuf Mansur. Semuanya berbayar.

Kami baru sadar setelah aplikasi VSI tidak bisa dibuka di Hong Kong. Kami pun mendatangi kantor VSI yang ada di kota Bandung, tetapi tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Lalu, kami mendatangi lahan yang dijanjikan akan dibangun Condotel Moya Vidi di Jogjakarta, ternyata lahan tersebut tidak ada.

Atas semua itu, barulah kami sadar, ternyata Yusuf Mansur itu seorang penipu! Agar orang lain tidak jadi korban, maka ia harus dihentikan. Ini nahi mungkar yang harus ditegakkan!”

About Redaksi Thayyibah

Redaktur