
Pesantren yang sesungguhnya itu menjaga nilai-nilai ketawadhu’an. Hafalan Qur’an dipandang sebagai ibadah, bukan pencapaian yang perlu dipamerkan. Relasi guru dengan santri dan validasi kualitas itu, lebih penting daripada pengakuan publik. Sedangkan Model yang dipilih Yusuf Mansur berbeda: yakni yang berskala nasional, di lokasi prestisius, yang bersifat seremonial dan terbuka, serta mengandung unsur branding dan mobilisasi massa. Ini jelas lebih mendekati event modern daripada tradisi pesantren itu sendiri.
Thayyibah