Breaking News

Si Paling 12.000

Oleh: Joko Intarto

Kalau uang di kantong hanya tersisa Rp12.000, di mana kita bisa makan enak dan kenyang? Kalau di Grobogan, Jawa Tengah, banyak. Tapi di Jakarta? Nah, saya punya rekomendasinya.

Saat melintasi kawasan Manggarai Utara, perhatian saya tertuju pada sebuah warung sederhana di sudut jalan. ”Warung pecel Bu Yem”, begitu tulisan pada spanduknya.

Terlihat lima panci alumunium ukuran besar berjejer di atas meja saji. Ada tujuh orang pengunjung yang sedang makan di meja yang lain.

Dugaan saya menu masakan warung itu enak. Soalnya ramai pembeli. Padahal saat itu pukul 16:00. Bukan waktu normal untuk makan siang atau makan malam.

Daripada penasaran, saya putuskan mampir di warung Bu Yem untuk makan siang yang sudah sangat terlambat. Sebenarnya saya membawa seporsi nasi bakar ikan cakalang di dalam tas. Tapi saya belum sempat makan siang.

Ada beberapa menu yang dijual Bu Yem. Yang utama tentu saja pecel. Kalau ingin menu lain, tersedia sayur lodeh terong, sayu sop, sayur asam, sayur labu dan opor ayam.

”Boleh minta sambal tumpang?” tanya saya.

”Oh, tidak ada Pak,” jawab penjual pecel.

”Ini pecel khas daerah mana, kok tidak memakai sambal tumpang?” tanya saya.

”Pecel khas Solo,” jawabnya.

Sambal tumpang memiliki rasa dan aroma yang khas karena salah satu bahan bakunya adalah ‘tempe semangit’, yaitu tempe yang raginya sudah menua. Orang Jawa sering menyebutnya dengan istilah ‘tempe bosok’ yang berarti tempe busuk. Padahal, ‘semangit’ berbeda dengan ‘bosok’. ‘Semangit’ itu satu tahap menuju ‘bosok’.

Entah karena lapar atau karena rasanya yang lezat, sore itu saya makan kenyang. Untuk seporsi nasi pecel ditambah sayur lodeh terong dan botok teri dicampur biji melanding ditambah segelas air putih itu, saya dikenai tagihan Rp12.000.

Murah atau mahal? Untuk citarasanya yang maknyuss dan membawa saya seakan pulang kampung, harga tersebut murah. Secara kebetulan, uang cash di dompet saya ternyata hanya segitu.(jto)

About Redaksi Thayyibah

Redaktur