Breaking News

Situs Cagar Budaya Tasikardi

Oleh: Setiyardi

(Foto : Dok. Setiyardi)

Belum lama saya ditelpon Kiai Fathul Adzim, Kesultanan Banten. “Ardi kita makan. Ngobrol-ngobrol,” ujar Abah Fathul Adzim di ujung telpon. Saya akrab dengan Beliyo sejak 2008, saat menjadi ketua panitia Maulid Panjang di Masjid Banten Lama. Saya segera meluncur. Saat ngobrol santai Abah minta saya memikirkan Danau Tasikardi, yang tak jauh dari Keraton Banten Lama.

Tasikardi adalah danau buatan yang dibangun era Sultan Maulana Yusuf, sultan Banten kedua  [1570 – 1580]. Danau seluas lima hektar ini multifungsi — sumber pengairan sawah, sumber mata air keraton dan tempat pemandian para putri raja. Dasar danau dari batu bata. Dan terhubung dengan saluran air berdiameter 2 m ke keraton.

Tempat pemandian berada di tengah danau, lalu saya survei pelbagai kemungkinan yang bisa dilakukan. Saya ditemani Kang Haji Nahrawi, pengelola Tasikardi yang saya kenal baik sejak tahun 1990. Kami menaiki perahu milik Kang Haji Nahrawi, yang sejak puluhan tahun seperti kakak sendiri.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur