Breaking News
(Foto : Istimewa)

Warisan Ayah

Oleh: Satria Hadi Lubis

(Foto : Istimewa)

Menjelang kematiannya, seorang pria, Yaqub Sholeh, memanggil anak-anaknya dan ia menasehati mereka untuk mengikuti jejak hidupnya sehingga mereka dapat memiliki ketenangan jiwa dalam semua hal yang mereka lakukan.

Putrinya, Sara, mengatakan, “Ayah, saya kecewa Anda meninggalkan kami tanpa uang sepeser pun di bank.

Para ayah lain yang ayah katakan sebagai koruptor dan pencuri dana publik bisa mewariskan rumah dan properti untuk anak-anak mereka. Kita bahkan tinggal di rumah kontarakkan.

Maaf, saya tidak bisa mengikuti jejak hidup ayah. Biarkan kami mencari jalan hidup sendiri.”

Beberapa saat kemudian, ayah mereka menutup mata untuk selamanya.

Tiga tahun kemudian, Sara pergi untuk wawancara pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional.

Saat wawancara ketua panitia bertanya, “Saudara ini punya nama belakang Yaqub yang mana?”

Sara menjawab: “Saya Sara Yaqub. Ayah saya adalah Yaqub Sholeh yang sudah meninggal”.

Ketua panitia memotong, “Ya Allah, Anda ini putrinya Yaqub Sholeh?”

Dia berbalik bicara kepada anggota-anggota yang lain dan berkata, “Pak Yaqub ini adalah salah satu yang menandatangani formulir keanggotaan saya di Institut Administrator dan rekomendasinya tersebut membuat saya diterima bekerja di posisi saya sekarang ini. Dia melakukan semua ini dengan gratis. Saya bahkan tidak tahu alamatnya, dan dia tidak pernah tahu saya. Dia hanya melakukannya untuk keprofesionalan saya.”

Dia lalu berbalik ke Sara, “Saya tidak punya pertanyaan untuk Anda lagi, Anda sudah mendapat pekerjaan ini. Silahkan datang besok, semua surat penugasan Anda akan saya siapkan untuk Anda”.

Setelah bertahun-tahun bekerja, Sara Yaqub menjadi Corporate Affairs Manager perusahaan tersebut dengan dua mobil dan drivernya. Apartment dua lantai disediakan kantornya, dan gaji besar di luar tunjangan dan biaya-biaya lainnya.

Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan tersebut, pimpinan perusahaan datang dari Amerika mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri dan mencari  penggantinya. Orang dengan kepribadian dan integritas yang tinggi adalah yang dicari. Lagi-lagi para konsultan perusahaan menominasikan Sara Yaqub menjadi pimpinan perusahaan.

Dalam sebuah wawancara, Sara Yaqub ditanya rahasia kesuksesannya.

Dengan air mata berlinang, dia menjawab, “Ayah telah membuka jalan bagiku. HANYA setelah ia meninggal, aku baru sadar bahwa dia secara finansial miskin, tapi ia luar biasa kaya akan integritas, disiplin dan kejujuran”.

Dia ditanya lagi, “Mengapa Anda menangis? Kan Anda sekarang bukan lagi sebagai seorang anak yang merindukan ayahnya yang sudah pergi dalam waktu yang lama?

Dia menjawab, “Pada saat kematiannya, aku menghina ayahku karena menjadi orang yang jujur dan berintegritas tinggi. Aku berharap dia akan memaafkanku dalam kuburnya sekarang. Aku sebenarnya tidak akan bisa sesukses ini. Ayah yang telah melakukannya untukku. Dan aku tinggal berjalan meraih suksesku”.

Akhirnya dia ditanya, “Apakah Anda akan mengikuti jejak ayahmu seperti yang ia dahulu minta?”

Dan Sara menjawab dengan sederhana, “Aku sekarang mengagumi ayahku. Aku memiliki foto besar yang tergantung di ruang tamu. Dia layak memperoleh apa pun yang saya miliki, setelah Allah”.

***

Apakah Anda seperti Sara Yaqub?

Ia membayar mahal untuk sebuah pelajaran. Buahnya tidak datang dengan cepat, tetapi akan datang walaupun mungkin diperlukan waktu yang lama.

Integritas, disiplin, kontrol diri dan takut akan Allah membuat manusia jadi kaya. Bukan rekening bank yang gemuk yang membuat Anda kaya. Tinggalkan warisan bermakna untuk anak-anak dan keturunan Anda.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur