Breaking News
Ilustrasi. Penangan pasien terpapar Virus Corona pada sebuah rumah sakit (Foto : Tirto)

Membuka Data Korban Corona yang Sebenarnya

 

Data korban corona Ekuador kecil, tapi mayat berserakan di jalanan
thayyibah.com :: Respon cepat pemerintah menjadi kunci penanganan wabah. Terlebih pada penyakit Covid-19 yang penyebarannya sangat mudah. Hanya dengan menghirup oksigen yang terpapar partikel droplet penderita, orang lain akan tertular. Namun di Tanah Air, respon cepat ini gagal ditunjukkan pemerintah.

Hingga kini, jumlah warga positif terjangkit Covid-19 yang dipublikasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 memang masih relatif sedikit dibanding negara lain. Data di Worldometer per 23 April 2020, menyebutkan Indonesia ada pada posisi ke 34 dari 210 negara terjangkit.

Sedangkan di lingkungan negara-negara Asia, jumlah penderita Covid-19 di Indonesia menduduki posisi ke-12. Jumlah kasusnya sebanyak 7.419 kasus pasien positif. Bila dibanding dengan jumlah penduduk yang 268 juta jiwa, jumlah kasus sebesar itu memang masih relatif sedikit.

Namun apakah dengan melihat perbandingan data kasus tersebut kita layak berbesar hati? Mari kita cermati dulu mengapa angka kasus positif tersebut masih relatif kecil.

Dengan mencermati data perkembangan kasus Covid-19 dari hari ke hari yang dipublikasi pemerintah, kita akan bisa mengurai apa yang sebenarnya terjadi dengan data kita. Termasuk mengurai mengapa jumlah kasus Covid-19 masih sedikit.

Salah satu yang dicermati adalah mengenai jumlah pasien yang dinyatakan positif, negatif dan sembuh. Dari akumulasi data tersebut, kita bisa mengetahui berapa sebenarnya kapasitas test swab yang dilakukan pemerintah.

Sebagaimana diketahui, data resmi yang digunakan pemerintah untuk menghitung perkembangan kasus Covid-19 didasarkan pada hasil pemeriksaan sampel swab pasien dengan menggunakan metode PCR (polymerase chain reaction). Bukan dengan metode rapid test yang memang tidak selalu bisa diandalkan akurasinya.

Dengan metode PCR, analis di laboratorium yang ditunjuk pemerintah memeriksa langsung keberadaan virus SARS CoV 2 melalui lendir yang diambil dari tenggorokan dan hidung pasien.

Untuk melakukan pemeriksaan swab, pemerintah telah menunjuk 16 laboratorium yang bisa  melakukan test swab. Belakangan, pemerintah telah menambah jumlah laboratorium pemeriksaan sampel swab menjadi 48 laboratorium.

Namun saat masih 16 laboratorium yang melaksanakan test swab, hasil test yang disampaikan relatif masih sangat sedikit. Hingga pertengahan April 2020, rerata sampel swab yang diperiksa 16 laboratorium hanya pada kisaran 250-280 sampel per hari. Kapasitas pemeriksaan sebesar ini, dihitung dari publikasi gugus tugas Covid-19 mengenai jumlah kasus positif, negatif dan pasien sembuh.

Dengan data ini, bisa disimpulkan setiap laboratorium rata-rata hanya memeriksa sekitar 15-20 sampel per hari. Jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.

Jangankan berbicara soal test massal yang berarti melakukan test terhadap sebesar-besarnya seluruh populasi. Khusus untuk melakukan pemeriksaan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit saja, masih jauh dari memadai.

Berdasarkan data Worldometer, jumlah test PCR yang dilakukan pemerintah Indonesia pada 23 April 2019, baru tercatat sebanyak 55.732 kali. Di lingkungan negara-negara Asia, jumlah test sebanyak ini termasuk 20 besar negara-negara yang tersedikit melakukan test.

Bahkan bila dihitung dari jumlah populasi penduduk masing-masing negara, ratio test yang dilakukan Indonesia menduduki peringkat ke 5 terendah. Jumlah tes swab yang dilakukan hanya mencapai ratio 204 kali test swab per 1 juta jiwa.

Negara-negara lain yang masih ada dibawahnya, adalah Banglades dengan rasio 198 kali test swab per 1 juta jiwa, Afghanistan dengan ratio 165 per 1 juta jiwa, Myanmar dengan ratio 96 per 1 juta jiwa, dan Laos dengan ratio 201 per 1 juta jiwa.

Bahkan dibandingkan dengan bekas provinsi kita, Timor Leste, ratio test swab yang dilakukan Indonesia masih tertinggal. Timor Lester tercatat telah melakukan tes swab sebanyak 322 kali, namun dengan ratio 244 kali per 1 juta jiwa.

Rendahnya kapasitas test swab ini, menjadi masalah yang banyak dikeluhkan pemerintah daerah dalam upaya mengatasi wabah Covid-19 di daerahnya. Hingga pertengahan April 2020, Gugus tugas di tingkat kabupaten/kota di Jawa pada satu periode tertentu hanya bisa menerima rata-rata 5-6 hasil tes swab. Itu pun dengan waktu tunggu yang cukup lama. Sejak dilakukan swab hingga menerima hasil, butuh waktu 7-9 hari.

Melihat kondisi ini, banyak pemerintah daerah yang akhirnya berinisiatif membeli sendiri perangkat rapid test. Tentunya dengan APBD sendiri. Meski hasil pemeriksaannya tidak menjamin 100 persen akurat, paling tidak pemerintah daerah bisa melihat gambaran peta sebaran Covid-19 di daerahnya.

Sejauh ini, kita belum bisa memahami mengapa pemeriksaan sampel swab yang dilakukan laboratorium yang dirujuk pemerintah demikian lamban. Entah karena terbatasnya reagen PCR, masalah peralatan yang memadai, SDM analis, atau memang ada upaya pembatasan proses pemeriksaan.

Namun bila melihat data sebaran Covid-19 yang tercantum di situs resmi covid19.go.id, terkesan pemerintah memang enggan membeberkan data lengkap. Dalam situs itu, hanya termuat data mengenai sebaran kasus per provinsi, kasus terkonfirmasi, kasus dalam perawatan, kasus sembuh dan kasus meninggal. Selain itu, juga ada grafiknya.

Bila sebelumnya, ada data jumlah kasus pasien dalam pengawasan (PDP) dan kasus negatif, belakangan sudah tidak ada lagi. Bahkan data mengenai pasien disebut masih dalam perawatan, hanya merujuk pada jumlah kasus yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Bukan merujuk pada jumlah Pasien Dalam Perawatan (PDP), yang jelas jumlahnya akan jauh lebih besar.

Sebagaimana disebutkan di awal, kesigapan pemerintah dalam mengani wabah memegang peran penting untuk mengeliminir penyebaran kasus. Termasuk kesigapan dalam meng-update data yang berarti kecepatan dalam melakukan melakukan tes swab. Update data ini tidak hanya diperlukan pemerintah untuk merumuskan kebijakan untuk mengeliminisai wabah, tapi juga bagi tenaga medis yang menangani pasien, dan juga masyarakat.

Dengan kecepatan pelaksanaan test swab, tenaga medis bisa cepat mengambil langkah kuratif yang memadai untuk menangani pasien. Demikian juga bagi masyarakat, bisa segera melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terpapar Covid-19.

Bahkan bila dalam penanganan wabah hendak menerapkan konsep herd immunity, kecepatan data hasil test swab tetap diperlukan. Dengan kecepatan test swab, kita bisa menilai sejauh mana penerapan herd immunity yang dihitung berdasarkan ratio populasi telah tercapai.

Dalam wabah Covid-19 ini, kita mungkin bisa berkaca pada wabah yang terjadi di Ekuador. Negara di Amerika Selatan, yang memiliki iklim yang serupa dengan Indonesia. Sama-sama dilintasi garis khatulistiwa.

Pemerintah negara tersebut, secara resmi hanya melaporkan kasus per 23 April 2020 sebanyak 10.850 kasus Covid-19 dengan jumlah kematian sebanyak 537 jiwa. Sedangkan jumlah pelaksanaan test swabnya mencapai 34.840 kali, dengan ratio 1.975 per 1 juta jiwa.

Namun data tersebut, disangsikan berbagai kalangan mengingat banyaknya laporan mengenai mayat-mayat pasien Covid-19 yang tidak tertangani dengan baik. Banyak rumah sakit di negara itu juga dilaporkan lumpuh, karena tidak mampu menangani banyaknya pasien. Berbagai sumber menyebutkan, angka kematian akibat Covid-19 di negara itu pernah mencapai 6.000 jiwa per hari,

Sejauh ini, Indonesia tidak mengalami kondisi semacam itu. Namun semua itu, kembali pada bagaimana pemerintah dan masyarakat bersikap sigap dalam menangani wabah. Semoga apa yang terjadi di Ekuador, tidak terjadi di negara kita tercinta.

Sumber: Eko Widiyatno / republika.co.id

About A Halia