Breaking News
(Foto : Republika)

Munajat Dalam Kesendirian

Oleh : Syatiri Matrais

(Foto : Republika)

Robbiii……

Tubuhku lemah dengan sedikit sentuhan wabah

Jiwaku rapuh karena sifat gegabah

hatiku kosong, karena dosa

emosiku takut mendengar berita

batinku nelangsa tanpa arah.

 

Diriku tak guna, kalau ternyata semua hampa

Setiap saat diri ini angkuh, sombong tanpa kuasa

bagai raja tanpa singgasana

bagai permaisuri tanpa mahkota

Dibuai sesaat dengan kenikmatan

namun lupa tempat keabadian.

 

Setiap detik, selalu ada keresahan

dihinggapi bermacam-macam perasaan

rasa resah, gelisah, cemas dan was-was

membuat jiwa melayang dan pikiran menerawang

mencari solusi, yang menggembirakan

namun tak tersampaikan, yang ada hanya kesempitan.

 

Dada ini terasa panas akibat perasaan membakar

yang senantiasa menjadi bumerang

terbayang kematian kian menjelang

 

Oh Tuhan…. pemilik kekuasaan

betapa hambaMu ini banyak kesalahan

kezaliman, kelaliman dan kesombongan

selalu menghiasi kehidupan

sementara ketakwaan dan keimanan kian hilang

 

Dosa menggunung, ketakwaan menurun

timbangan ringan karena amal tak maksimal

ya Tuhan, malu diri ini menghiba

karena terlalu menggunung khilaf dan dosa

Hamba mengetuk pintu rahmatMu yang mulia

berikan percikan dan siraman kemaafan

dalam jiwa yang penuh dengan kesedihan

 

Rabb…..

Aku datang dengan dosa, dengan salah dan alpa

memohon, munajat yang dibasahi dengan air mata.

air mata kesedihan, pengakuan ketulusan, bukan air mata buatan karena kami tak kuasa mencipta

bukan untaian kata, karena lisan sulit berucap

biar air mata yang melukiskan gambaran jiwa

Betapa tubuh ini membutuhkan rangkulan dan pelukan sesaat….

ya, walau sesaat, Jika Engkau rangkul dengan cinta

Engkau peluk dengan erat, ditaburi kemesraan, niscaya jiwa raga ini akan tenang, nyaman dan bahagia…

 

Rabbiii….

begitu getir diri ini menyaksikan setiap jiwa melayang

begitu mudahnya jiwa pergi tanpa pamitan

sosok sosok manusia terkapar dengan mengenaskan karena ajal kematian telah datang…

kami sadar diri , begitu lemahnya diri manusia hanya karena makhluk kecil, virus merusak jiwa raga

tidak ada daya upaya kami kerahkan

karena kekuatan telah tertahan. tertahan karena ketakutan tanpa kepastian.

 

Munajat dan doa kami hantarkan, meski diri dipenuhi kecacatan, kenistaan dan keburukan,

karena yakin akan kemurahan dan pertolongan, yang selalu Engkau janjikan bagi insan pencipta kerusakan

 

Dosa menumpuk bagai gunung

khilap meluap bagai air lautan

kezaliman meresap, menancap bagai bukit barisan

ya, barisan kehitaman dosa seperti jubah hitam

berjejer menjadi virus virus kemurkaan.

janganlah kemurkaanMu engkau muntahkan bagai gunung yang meletus mengeluarkan kemarahan

larva, tanah, debu beriak menjadi lumpur menakutkan.

 

Rabbi,

Jiwaku dalam genggamanMU, jangan hempaskan diri ini

dalam kerugian dan penyesalan tiada penghabisan

hanya satu harapan

jika Engkau takdir usia panjang berikan waktu untuk meraih kebaikan

Jika ajal akan datang, baringkan aku dengan ketenangan berselimut keridhoan.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur