Breaking News
Ria Irawan (Foto : Liputan6)

Ria Irawan dan Indira Abidin

Dua Ikon Wanita Milenial Aset Bangsa

 

Oleh: Tifauzia Tyassuma (Dokter, Peneliti, Penulis, Presiden Ahlina Institute)

Ria Irawan (Foto : Liputan6)

 

Beberapa waktu lalu, Indira Abidin, tokoh wanita pendiri Yayasan Lavender, telah berpulang, oleh sebab Kanker. Beberapa hari lalu, Ria Irawan, tokoh wanita dan neniman hebat tanah air, juga berpulang karena kanker. Keduanya, dalam masa hidupnya memberikan kontribusi luas dan berarti bagi bangsa ini, terutama kaum wanita. Keduanya, mendapatkan izin Allah dengan kasus penyakit yang sama, menjadi jalan perjuangan bagi mereka, dan menjadi panutan bagi masing-masing yang mengikutinya.

Indira Abidin, memilih untuk menangkal penyakit dengan jalan yang diyakininya, hidup seorganik mungkin, menolak pengobatan medis modern, dan bereksperimen dengan terapi natural, menjaga kebugaran sealami mungkin, self healing, jalan spiritual, dan mendukung ribuan anggotanya yang mengalami kejadian yang sama, sebagai jalan perjuangannya.

Indira Abidin (Wanita Indonesia)

 

Sekitar seminggu sebelum kepulangan beliau, saya sempat mengunjunginya. Kunjungan yang menurut beliau begitu dinanti. Dalam keadaan berpacu dengan waktu, semangat membara dan pancaran positif begitu kuat terpancar dari diri. Sungguh saya sangat salut, dengan keberanian dan ketangguhan, memilih jalan yang tak mudah dalam ikhtiar kesembuhan.

Setelah berjuang sekitar tujuh tahun, beliau meninggal dalam merdeka. Sangat mengharukan menyaksikan video perpisahan, jalan kepulangan ke kediaman abadi, semofa husnul khatimah, kembali ke jannah.

Ria Irawan mendapatkan vonis kanker, tahun 2004, 16 tahun lamanya. Beliau memilih jalan samurai, patuh pada pengobatan medis yang diikuti dengan seksama dan teliti. Apa kata dokter beliau ikuti, operasi, kemoterapi, radioterapi, pengangkatan sejumlah organ yang berkaitan dengan fungsi hormonal pun diikuti.

Ria juga jalankan kehidupan yang natural dan organik. Menjauhi kehidupan seniman yang penuh risiko kesehatan, dan mendalami berbagai pengobatan yang selaras dengan spiritual, menjadi relawan dalam berbagai kegiatan. Mengikuti jalan teguh dalam kebenaran yang diyakini. Sempat Ria dinyatakan remisi, bebas dari kanker, walau akhirnya dua tahun ini titik-titik kanker bermunculan di organ lain, sebagai tanda sel-sel kanker memang tak punya daya mati.

Ria berpulang dalam kedamaian yang indah. Pulang setelah menyelesaikan pertempuran yang gagah. Semoga husnul khatimah. Jannah menantinya.

Dalam buku Body Revolution (Tyassuma, 2018) saya menyatakan, setelah melakukan penelitian, pengkajian, penelusuran ilmiah dalam berbagai sudut pandang keilmuan kedokteran dan lain-lain, saya nyatakan: Satu-satunya jalan untuk sembuh dari kanker, adalah dengan tidak kena kanker.

Sel HeLa, sel kanker yang sangat terkenal, sel kanker milik Henrietta Lacks, yang telah wafat akibat kanker Cerviks pada tahun 1951, saat ini masih hidup dengan baik, dan mereplikasi diri menjadi miliaran sel-sel, tetap hidup dalam tabung kaca di laboratorium, siap membelah dirinya menjadi miliaran dan triliunan sel-sel lagi untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Sel HeLa, merepresentasikan sebagaimana yang tertulis dalam Quran Sura Al Jumu’ah:8, bahwa kematian itu bisa dimajukan, dimundurkan, dihindarkan, tetapi tetap adalah suatu keniscayaan bagi sel-sel sehat, tidak bagi sel-sel kanker. Bagi sel kanker, kemampuan untuk mati sudah hilang.

Saat ini kami (AHLINA Institute) sedang mengkaji, meneliti, dan melakukan studi empiris menguji kemampuan tubuh dan jiwa untuk melakukan kontrol terhadap dirinya dalam sebuah Conceptual Framework yang kami namakan sebagai: NULLi: Kecerdasan Transendental, Kecerdasan Tak Terbatas (Pasiak & Tyassuma, 2018). Holy-Based Research Study.

Studi empiris observasional eksperimental pada pasien-pasien kanker sedang kami jalankan saat ini, untuk membuka salah satu metode yang nanti akan jadi -salah satunya adalah – Protokol Pengobatan Kanker, melalui jalur kapasitas otak-hati-usus (Gut-Brain Connection).

Pegangan kami adalah, satu: Allah telah menjanjikan kesembuhan untuk semua penyakit. Tugas ilmuwan mencari caranya.

Ria Irawan dan Indira Abidin, juga para pejuang kanker lainnya yang telah kembali dalam jiwa yang tenang, kembali ke hadirat Illahi. Husnul khatimah. Jannah menanti. Amiiin Yaa Rabbal’alamiin.

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur