Breaking News

Keluarga Sakinah Harus Ada Dakwah

keluarga-muslim

thayyibah.com :: Tahun 1999 ayah saya meninggal dunia, menyusul ibu yang wafat lima tahun sebelumnya. Setelah rentetan peristiwa ini, saya lantas berpikir; bagaimana kalau saya dipanggil Allah?

Lintasan pikiran yang terus menggelayut itu mendorong saya untuk segera menunaikan ibadah haji. Saat itu juga saya dan istri mendaftar haji. Tekad saya sudah bulat, saya harus naik haji tahun ini. Saya berpikir, apa jadinya kalau saya dipanggil Allah tapi saya belum menunaikan haji, padahal saya ada rezeki.

Sepulang haji, saya merasakan hal yang berbeda. Semangat untuk beribadah menjadi tinggi. Yang tadinya malas shalat, jadi ingin sekali shalat. Yang tadinya pelit jadi ingin sedekah. Kalau dengar azan rasanya ingin lari ke masjid. Semangat mempelajari Islam juga saya rasakan. Lalu, saya lihat di lingkungan keluarga yang kurang-kurang, saya sampaikan apa yang harus dilakukan.

Bagi saya keluarga adalah titipan Allah. Sebagai kepala keluarga saya harus mengajak keluarga ke jalan Allah. Namun, saya tidak ingin memaksa. Saya berusaha membangun kebiasaan-kebiasaan baru. Contohnya, shalat Subuh. Saya mencoba mengajak orang laki-laki di rumah saya untuk bersama-sama shalat di masjid. Tak hanya anak, pembantu yang laki-laki pun saya ajak. Alhamdulillah, sekarang sudah jadi kebiasaan.

Saya juga sering mengadakan taklim di rumah. Kita panggil ustadz ke rumah, kita dengar tausiyahnya. Menurut saya, keluarga yang sakinah harus ada taklim, ada dakwah. Saya juga ingin mengajak tetangga untuk meramaikan lingkungan dengan syiar Islam. Saya mengundang tetangga-tetangga untuk menghadiri taklim dan jamuan makan. Selain menambah ilmu juga mengeratkan silaturahim.

Kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga ini kemudian saya bawa ke kesatuan saya. Saat menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur saya membawahi 42.000 anggota. Waktu itu kondisi di sana agak rawan. Bila saya hanya mengandalkan kekuatan dengan 42.000 anggota saya, saya yakin tidak beres kalau Allah tidak campur tangan.

Agar Allah membantu tugas-tugas kita maka saya ajak anggota saya untuk sama-sama meningkatkan kedekatan pada Allah. Kalau waktu shalat tiba harus berjamaah di masjid. Saya takut nanti ditanya Allah, kenapa saya shalat sendirian? Padahal saya punya anggota 42.000 orang, punya kewenangan. Saya ingin anggota saya dekat pada Allah sehingga Allah akan membantu kami menjalankan amanah sebagai anggota polisi.

Karena itu, amanah saya di kepolisian, di keluarga sebagai kepala rumah tangga, harus saya kelola agar selalu dalam kebaikan. Artinya, kita perlu membudayakan saling tausiyah, taklim. Dengan begitu keluarga akan sakinah, masyarakat sakinah. Hasilnya, negara pun makmur.

Oleh: Irjen Polisi Drs H Anton Bachrul Alam SH

About A Halia