Terminal 1B, Bandara Soeta (Foto : Istimewa)

Orang-orang Baik di Bandara Soeta

Terminal 1B, Bandara Soeta (Foto : Istimewa)
Terminal 1B, Bandara Soeta (Foto : Istimewa)

thayyibah.com :: Selasa (8/12) pukul 12 siang. Hujan membasahi Kota Patriot sejak satu jam lalu. Dengan bus Damri saya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sore nanti saya akan terbang ke Kupang untuk selanjutnya pulang kampung ke Papela, Pulau Rote.

Sesampai di Soekarno-Hatta setelah terhadang macet cukup lama di bilangan Cawang, karena suasana perut mulai keroncongan ditambah waktu dzhur yang tersisa sedikit, saya bergegas turun di Terminal 1B dan berjalan cepat menuju musholla area di keberangkatan.

Saat itulah baru saya sadar kalau smartphone saya tak ada, setelah saya mencari dalam semua kantong celana dan di semua ruang dalam tas ransel yang saya bawa. Timbul keyakinan, smartphone itu terttinggal atau terjatuh di kursi bus yang belum lebih dari 10 menit lalu saya turun.

Terbayang sudah “musibah” yang akan saya derita jika pesawat komunikasi dan informasi itu benar-benar hilang. Apalagi jika perangkat lunak di dalamnya disalahgunakan oleh orang lain. Sungguh sebuah petaka.

Saya bergegas menemui petugas pengaturan kedatangan dan keberangkatan bus Damri yang sedang bertugas di shuttle bus Damri terminal 1B. Dari papan nama yang tertempel di dadanya terbaca namanya Cahyo.

Setelah perkenalkan diri sampaikan keluhan saya, Cahyo meminta bukti tiket bus. Dengan sistim tiketing Damri terbaru, di situ tertera waktu pembelian tiket, kode bus, trayek serta nama pengemudi. Dengan demkian, jika ada penumpang yang mengalami masalah dalam perjalanan maka menejemen Damri bisa membantu mencari solusinya.

Melalui alat komunikasi yang dimiliki, Cahyo mencari posisi bus dan nomor handphone pengemudi yang saya tumpangi tadi. Setelah itu, Cahyo meminta seorang temannya, yang belakangan saya tahu namanya Hermanto, untuk mengantar saya ke posisi bus tadi dengan menumpang bus Damri lainnya. Di atas bus yang bergerak ke Terminal 1C, saya mencoba menghubungi smartphone yang hilang itu dengan pesawat telepon lain yang saya miliki. Harapan saya, orang yang memungutnya mau berbaik hati untuk berkomunikasi.

Dua kali saya hubungi nomor smartphone itu tapi tak ada yang merespon. Masih ada harapan, semoga smartphone itu belum berpindah tempat. Karena biasanya, jika pesawat itu sudah di tangan orang lain dan orang itu ingin memilikinya maka langkah pertama yang dilakukannya adalah mematikannya untuk beberapa lama.

Sejurus kemudian, saya terhubung dengan nomor baru. Seseorang di seberang sana, bersuara laki-laki, bertanya, “Bapak kehilangan handphone ya?”

“Ya, benar,” jawab saya sekaligus menyebut ciri-ciri smartphone itu. Mulai timbul rasa lega dalam dada. Rupanya, orang yang menelpon saya itu melihat ada pangilan masuk dalam smartphone itu dan diapun yakin kalau itu adalah pemiliknya.

“Pak, saya sedang check in di terminal 1B dan saya tunggu bapak di pintu kedatangan. Setelah check ini Bapak temui saya di situ,” demikian kata penemu smartphone saya itu. Alhamdulillah, saya bersyukur karena smartphone saya itu disemalatkan oleh orang baik.

Hermanto lalu mengusulkan, kami susul saja orang baik di desk check ini. Saya mengiyakan. Hermanto lalu menemui dan meminta izin petugas di pintu masuk dan kami dizinkan. Belum lagi kami melangkah masuk, orang yang baik hati itu menelpon saya lagi, ternyata dia sudah menunggu di balik pintu kedatangan.

Akhirnya dengan berlari kecil saya dan Hermanto menuju pintu kedatangan. Lagi-lagi, orang yang baik hati itu lebih dahulu melihat kami dan langsung memanggil saya. Subhanallah. Orang itu ternyata anak muda yang mungkin masih duduk di bangku kuliah. Dia kemudian menyebut namanya, Ronald dan hendak terbang ke Batam.

“Minta maaf Pak. Saya harusnya saya serahkan ke pengemudi bus tapi saya kurang yakin itu, karena mereka terlalu sibuk mengemudi. Jika bapak tak menelpon saya berniat titipkan di bagian informasi supaya diumumkan,” begitu penjelasan Ronald.

Belum lagi saya mengucapkan terimakasih, Ronald sudah berbalik badan dan berlari menuju ruang keberangkatan lagi. Dia hanya berkata, “Maaf, pesawat saya boarding.”

Terimaksih Ronald. Saya hanya persembahkan tulisan ini sebagai ucapan terimakasih. Anda adalah sedikit dari anak muda di Jakata yang masih memiliki rasa untuk berbuat baik.

Demikian pula dengan Hermanto dan Cahyo. Terlepas dari profesionalisme yang diterapkan dalam menejemen perusahaan Damri, yang jelas Anda berdua, bersama Ronald sudah membantu saya keluar dari “petaka”.

Saya bergegas menuju musholla. Waktu dzhur yang tersisa makin sedikit. Ketika membasuh tangan, wajah, kepala dan kaki, saya berdo untuk Ronald, Hermanto dan Cahyo, semoga Allah SWT mecatat bantuan mereka hari ini sebagai amal sholeh.

Selesai wudhu, saya menelpon ibu meminta doanya agar saya selamat dalam perjalanan menuju pelukannya di Papela, Pulau Rote

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.