Oleh : Choirul Aminuddin

PERHELATAN itu memang telah berakhir, keriaan usai sudah setelah hajatan besar sepak bola Afrika di Stadion Pangeran Maulana Abdullah, Rabat, Ahad malam waktu setempat, ditutup.
Namun demikian, sejak pluit panjang ditiup oleh Jean Jacques Ngambo Ndala, wasit asal Republik Demokratik Kongo, yang mengantarkan kemenangan Senegal atas tuan rumah Maroko di final Piala Afrika (Afcon), 1-0, masih membekas di hati penggemar bola sepak.
Laga dramatis itu sempat diwarnai keributan dan ancaman oleh pemain serta ofisial tim berjuluk Singa Teranga. Mereka mengancam walk out lantaran pengadil lapangan memberikan hadiah pinalti untuk tuan rumah pada babak perpanjangan waktu. Wasit dianggap berpihak.
Beruntung, aksi tersebut urung dilakukan setelah pemain senior Senegal, Sadio Mane, membujuk rekan-rekannya agar kembali merumput.
“Ini hanyalah sebuah permainan. Jika kita keluar lapangan, akan mempermalukan bangsa Afrika,” ucap Mane kepada wartawan.
Bujuk rayu Mane yang disampaikan dengan rendah hati itu ternyata dapat meluluhkan rekan-rekannya untuk melanjutkan pertandingan krusial.
Hasilnya? Pada menit ke 94, Pape Gueye, berhasil merobek jala kiper Maroko yang dijaga oleh Yassine Bounou. Gol semata wayang Gueye ini mengantarkan Senegal menjadi tim terbaik di Afrika.
Apa kunci Senegal bisa menjadi raksasa bola di Piala Afrika 2025? Selain disiplin dan latihan keras, mereka selalu salat berjamaah.
“Seluruh ofisial dan pemain tidak pernah melupakan Tuhan!”
Perhatikan, betapa serempak sikap para pemain Senegal menuju masjid terdekat ketika mendengar azan. Sebelum berangkat ke Maroko, saat masih di pemusatan latihan nasional, mereka senantiasa ke masjid untuk salat berjamaah di masjid lokal.
Demikian pula dua hari menjelang partai final, Ahad malam. Seluruh pemain dan ofisial kesebelasan Senegal jumatan di Masjid Jamik Rabat. Bagi mereka, sebagaimana disampaikan Mane kepada juru warta, sepak bola hanyalah sebuah permainan.
“Tuhan adalah segalanya.”
Doa kepada Tuhan tidak hanya dilakukan oleh para pemain baik sebelum maupun setelah turun minum, melainkan juga dipanjatkan oleh seluruh rakyat Senegal.
Berbagai laporan media menyebutkan, hampir seluruh imam masjid di negeri tersebut dimintai doa oleh penggemar bola agar tim kesayangannya berhasil menjuarai piala bergengsi di Afrika.
“Tuhan menjawab doa yang mereka panjatkan.”
Senegal berkeyakinan kompetisi yang ketat, latihan keras di lapangan hijau, dan disiplin tinggi demi mencapai sukses tidaklah cukup. Oleh sebab itu, Singa Teranga selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkah.
Selamat untuk Senegal!!
Tanjung Priok, 20 Januari 2026
Thayyibah