Breaking News

Djarum, Como 1907, dan Lari di Danau Como

Oleh : Anif Punto Utomo

Mengelilingi sebagian danau

Nama klub bola Como 1907 mencuat setelah resmi promosi ke kasta tertinggi Liga Italia (Serie A). Promosi tersebut menandai kebangkitan Como 1907 untuk kembali ke puncak  piramida sepak bola Italia setelah sempat tenggelam dan gulung tikar pada 2016-2017.

Nama klub Como 1907 merupakan paduan dari nama kota dan tahun berdirinya. Como adalah sebuah provinsi di Italia. Ibu kotanya berada di kota Como. Sementara angka 1907 adalah tahun klub itu didirikan.

Como 1907 sempat masuk di Seria A selama lima musim pada 1984-1989. Tetapi setelah itu prestasinya meredup, turun kelas kembali, sampai akhirnya pada 2003 mulai limbung  diterpa masalah keuangan, dan dinyatakan bangkrut pada 2016.

Pemilik Djarum Grup, Hartono bersaudara tertarik untuk mengelola klub legendaris itu. Ketika klub dilelang pada 2019, Hartono lewat Entertainment memenangkannya dengan harga Rp 10 miliar. Sejak itu pembenahan total dilakukan. Como 1907 merangkak lagi dari bawah, mulai dari Seri D, kemudian ke Seri C, berlanjut ke Seri B, dan akhirnya kembali promosi ke liga Serie A.

Begitu masuk Seri A mulai muncul usulan agar ada pemain timnas Indonesia yang masuk menjadi tim inti Como 1907 mengingat pemilik klub itu orang Idnonesia. Lagi pula salah satu mantan pemain Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, menjadi asisten pelatih U-19 di klub tersebut.

***

Danau berbentuk Y terbalik

Ketika membaca berita tentang Como 1907, saya jadi teringat ketika musim panas tahun lalu menghirup udara Como. Bukan hanya menghirup tetapi juga menikmati lagi pagi menjelang siang di danau terindah di Italia yang berada di kota terebut, Danau Como.

Ceritanya dimulai ketika saya, istri, dan anak bungsu berangkat dari Zurich menuju Milan naik kereta. Pagi itu 10 Juli 2023, kereta dari Zurich berangkat pukul 08.15. Kami bangun kesiangan. Maklum malamnya susah tidur karena cuaca panas. Rupanya, untuk hotel kelas bintang tiga di Zurich tidak disediakan AC. Saat musim panas, panasnya bukan main. Jendela dibuka pun tidak ada artinya karena udara di luar juga panas.

Sekitar pukul 07.00 kami bergegas berangkat ke stasiun Zurich naik trem. Dari hotel jalan kaki 20 menit. Ketika sampai halte, trem sudah mau berangkat. Khawatir tertinggal, kami cepat-cepat naik, tidak sempat beli tiket. Beruntung tidak ada pemeriksaan tiket, jadi aman (mohon maaf untuk KAI-nya Swiss karena kami ‘mbludus’). Sampai di stasiun waktu memang sudah mepet, empat-lima menit setelah duduk, kereta berangkat.

Perjalanan dari Zurich ke Milan memakan waktu 3 jam 20 menit. Rute kereta melintas pegunungan Alpen yang kemolekannya sangat memukau.

Di depan monumen Ai Caduti

Begitu kereta meninggalkan Zurich, kita langsung disuguhi pemandangan yang mempesona. Rangkaian kereta melewati  hamparan rumput hijau diselingi perdu. Kemudian melewati kebun anggur yang menghijau. Dari jauh terlihat pedesaan di kaki pegunungan Swiss yang terjal. Sekilas hunian tampak rapi tapi nyaris tak terlihat penghuni di luar.

Rute kereta berkelok-kelok melintas perbukitan, tiba-tiba masuk terowongan, keluar, tak lama masuk lagi, dan keluar lagi langsung terlihat pemandangan danau yang indah dengan air jernih yang membiru. Biasanya ketika kereta persis menyisir pinggir danau, para penumpang mengambil foto lewat HP. Pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan.

Sesekali, jalur kereta beriringan dan bersilangan dengan jalur jalan bebas hambatan, yang menghubungkan berbagai kota di Swiss dan ke sejumlah kota di negara Eropa lainnya. Swiss memang mrrupakan negara di tengah Eropa yang berbatasan dengan langsung dengan Italia, Jerman, Perancis, dan Austria.

Swiss adalah negara seribu danau. Terdapat ribuan danau yang ‘bermukim’ di Swiss. Menurut jurnal penelitian yang diterbitkan oleh Institut Sains dan Teknologi Perairan Federal Swiss (Eawag) dalam satu setengah abad terakhir saja, 1.200 danau baru lahir akibat mencairnya gletser di pegunungan Alpen yang terjadi sejak tahun 1850. 

Rute Zurich-Milan yang berjarak 283 kilometer itu melintas lima danau besar. Di mulai dari menyisir Danau Zurich, kemudian melintas sisi Danau Zug, berlanjut Danau Luzern, menyusul Danau Lugano yang berada di perbatasan Swiss-Itali, dan terakhir Danau Como yang sudah masuk wilayah Itali.

Mata yang seharusnya mengantuk karena kurang tidur, terasa sayang untuk dipejamkan lantaran setiap kilometer yang dilalui selalu menyuguhkan pemandangan indah. Sampai suatu ketika terdengar pemberitahuan dari masinis kereta bahwa sebentar lagi kereta akan berhenti di kota Como yang kotanya melingkupi Danau Como.

Panorama birunya air danau (panorama-magz.com)

Danau Como merupakan lokasi yang menjadi tujuan wisata, baik turis lokal maupun luar negeri. Danau itu sudah teragendakan untuk kami kunjungi ketika berada di Italia. Rencana awal, setelah sampai di Milan menaruh koper di hotel, langsung pergi lagi ke Como. Kami tidak tahu sebelumnya bahwa kereta berhenti di stasiun Como.

Serta merta saat itu juga rencana diubah. Kami turun di Como, nanti ke Milan naik kereta berikutnya. Jadi tidak perlu bolak-balik Milan-Como-Milan.

Posisi stasiun kereta Como ada di perbukitan. Elevasi lebih tinggi dibanding danau. Jalan menuju tepi danau yang berjarak  berjarak sekitar 600 meter itu terlihat menurun dengan kemiringan 25 derajat sampai jalan besar. Setelah melewati tiga perempatan, sampailah ke Danau Como yang memancarkan suasana romantis.

Danau Como merupakan danau terbesar ketiga di Italia, setelah Danau Garda dan Danau Maggior. Danau cantik ini berada di Lombady, daerah utara Italia yang berbatasan dengan Swiss. Posisinya berada di antara Lembah Po dan Pegunungan Alpen.

Danau dengan luas mencapai 146 kilometer persegi ini berbentuk huruf Y terbalik. Kota dan desa berada mengelilingi danau yang berair biru tersebut. Pemandangan indah itu dibingkai dengan pegunungan Alpen yang mengelilingi danau yang sudah terkenal sejak zaman Romawi, dan menjadi lokasi wisata para bangsawan.

Kota Como berada di kaki sebelah kiri dari huruf Y (terbalik) tersebut. Permukaan air danau yang jernih dan tenang dengan warna kebiruan membuat suasana di sekitar danau Como terasa santai dan menyenangkan.

Ruangan dalam Bacilia of Saint Abbondio

Di masa modern ini Danau Como sering dikunjungi turis dari berbagai belahan dunia termasuk selebriti Hollywood. Beberapa bahkan membeli villa demi bisa menikmati keindahan Como lebih lama. Artis Indonesia, Raisa dan Hamish, merupakan satu dari ribuan pasangan yang berbulan madu di danau cantic nan romantis ini.

Eksotisme Danau Como terasa makin lengkap dengan bangunan berarsitektur klasik dan berusia tua yang sebagian berupa kastel. Situs bersejarah berupa bangunan juga direpresentasikan adanya gereja tertua di Lombardy yakni Basilica of Sant’Abbondio yang ornamen-ornamen di dalamnya sangat kental dengan nuansa abad ke-14.

Jalan menyusur danau terlihat berkelok-kelok. Di beberapa tempat terlihat bangunan abad pertenghan, kastil yang megah, resor-resor mewah, dan pedesaan khas Alpen. Terdapat juga resto asli Italia yang menyajikan pizza tradisional dan toko-toko es krim tradisional.  Kita juga bisa naik Brunate Funicular, kereta gantung yang membawa ke kawasan Brunate di atas pegunungan. Di sepanjang jalur yang dilewati kita disuguhi pemandangan kota Como.

Kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun Como sekitar pukul 10.00. Kami langsung bergegas turun. Sekitar 20 menit kemudian sudah santai-santai di tepian danau. Ada satu tepian yang dibikin seperti pantai dengan pasir putih. Mungkin pasir itu dimpor dari pantai. Di situ terlihat beberapa orang dan anak-anak bermain air.

Saat menikmati keindahan danau itu tiba-tiba kepikiran, sepertinya lari di tepian danau asyik juga. Yup. Niat sudah dicanangkan. Matahari sudah naik sepertiga. Panas sudah mulai terasa. Di salah satu sudut tepian danau tampak beberapa anak turun ke danau bermain air. Langsung saja di situ juga saya ganti celana dan kaos lari.

Rute lari sudah pasti menyusur tepi danau. Mengitari seluruh danau tentu tidak mungkin karena jaraknya puluhan kilometer. Di kejauhan, di sisi seberang, terlihat rumah-rumah yang berada di atas bukit. Juga tampak jalur kereta gantung. Ke arah situ ruter yang akan saya lalui.

Setelah sedikit melakukan peregang, lari dimulai. Satu kilometer terlampaui, dua kilometer terlewati, tidak berpapasan dengan satu pun orang yang sama-sama lari. Sementara turis sudah mulai ramai berdatangan. Di antara turis itu ada yang melihat ke arah saya, bisa jadi dia membatin ‘orang ini siang-siang lari, jangan-jangan lari dari kenyataan’.

Ketika mau naik ke pemukiman di perbukitan, ada jalan aspal yang mulus. Tetapi saya memilih lewat gang sempit yang memisahkan satu rumah dengan rumah lain. Bedanya dengan gang di Jakarta, di sana gang sempit itu beradu tembok tinggi yang merupakan tembok samping rumah. Di Jakarta, gang memisahkan rumah yang berhadap-hadapan.

Sampai di atas ada area kecil yang bisa melihat pemandangan danau. Air biru berkilau nampak berpadu dengan bangunan lama dan moderen di sisi kiri, sedangkan di sisi kanan perbukitan hijau.

Cukup lima-enam menit menikmati pemandangan yang memukau tersebut. Sekelebat menjadi teringat pemandangan nyaris serupa dalam skala kecil yakni embung Kledung di lereng Gunung Sindoro. Memadukan antara air berkilau dengan kehijauan lereng gunung.

Ketika kembali ke tempat semula, sempat melewati monumen Ai Caduti, bangunan berbentuk vertikal yang merupakan monumen peringatan perang. Monumen tersebut adalah simbol perjuangan para tentara Italia pada perang dunia pertama.  Monumen ini berdiri tegak sejak tahun 1933 dan material bangunan terbuat dari batu Karst.

Lari berakhir, panas sudah semakin menyengat. Herannya, keringat tidak bercucuran seperti kalau lari di Jakarta. Biasanya menginjak kilomenter ketiga keringat sudah membasahi kaos, tapi kali ini, hanya bagian tertentu yang basah keringat. Kelembaban rendah mungkin penyebabnya.

Lari pagi menjelang siang itu yang hanya lima kilometer karena buru-buru harus naik kereta ke Milan. Meski singkat tetapi sangat mengesankan karena setiap mata memandang selalu disuguhi pemandangan yang eksotis.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur