Kesombongan dan ketidakadilan, sebuah ilustrasi (Foto : bacaan madani)

TIGA PENYELAMAT DAN TIGA PERUSAK

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda, Bogor)

Kesombongan dan ketidakadilan, sebuah ilustrasi (Foto : bacaan madani)

Dalam hidup yang singkat ini seringakali kita terjebak dengan hal-hal yang sepele, namun menguras energi dalam diri kita. Akibatnya, agenda-agenda besar yang menjadi tugas kita sebagai khalifatullah untuk memakmurkan bumi, menciptakan peradaban dan menebarkan Islam rahmatan lil-alamin, terabaikan.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Rasulallah SAW berkata, “Ada tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang merusak. Yang menyelamatkan adalah takwa kepada Allah dalam sepi maupun ramai, berkata benar (adil) dalam kondisi ridha maupun marah, dan bersikap sederhana dalam keadaan kaya maupun miskin. Sedangkan yang merusak adalah bakhil yang kelewatan, nafsu yang diikuti, dan menyombongkan diri sendiri.” (HR Baihaqi).

Mari kita telaah.

Pertama: Takwa, yaitu melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam hadits di atas disebut taqwallâh fis sirri wal ‘alâniyah. Artinya, takwa menuntut seseorang hanya takut kepada Allah semata, bukan kepada makhluk ciptaan-Nya. Sebab, Allah-lah tempat kita bermohon dan berlindung. Inilah yang membuat takwa terasa sangat berat.

Pernahkah kita merasakan: kita terlihat begitu baik dan shaleh saat bersama orang lain dan begitu binal dan durhaka saat sendirian?

Kedua: Berlaku adil dalam segala kondisi. Kisah Abdullah bin Rawahah baik diteladani. Semasa hidupnya, ia ditugasi Rasulullah SAW menghitung hasil pertanian kaum Yahudi di Khaibar yang telah menjadi harta ghanimah umat Islam. Ketika ia hendak melaksanakan tugasnya, orang-orang Yahudi mengumpulkan perhiasan agar pemeriksaan yang dilakukan tidak menghambat perdagangan mereka. Dengan kata lain, Yahudi ingin menyuapnya.

Diberikanlah seluruh perhiasan tersebut kepada Abdullah bin Rawahah seraya berkata, “Semua ini kami serahkan untukmu dan berikanlah kami keringanan dan permudahlah dalam menghitung”.

Melihat itu, Abdullah bin Rawahah berkata, “Hai orang-orang Yahudi! Demi Allah, kamu semuanya adalah makhluk Allah yang aku benci! Meskipun demikian, aku tidak akan mencurangi kalian. Kalian menawarkan kepadaku barang suap, sedangkan barang suap itu haram. Dan kami membenci memakan barang suap!”

Demi penolakan itu, orang-orang Yahudi pun berkata, “Dengan sifat itu, langit dan bumi tegak berdiri”. Fiat justitia ruat coeleum. Keadilah wajib ditegakkan walaupun kepada musuh-musuh Islam.

Ketiga: Sederhana saat kaya maupun miskin. Sederhana saat miskin bukan hal yang aneh, sebab memang sedang “tak berpunya”. Namun sederhana saat kaya bukanlah hal mudah. Karena itu, kita diajarkan untuk hidup zuhud dalam pengertian yang benar.

Kata Ibnul Qayyim, “Zuhud itu bukanlah engkau meninggalkan gemerlap dunia dari genggamanmu, tetapi hatimu terus memikirkannya. Zuhud adalah orang engkau meninggalkan dunia dari hatimu, meskipun ada dalam genggamanmu”.

Hal ini menjadi ciri dari kedewasaan seseorang dalam memaknai kekayaan. Kekayaan tidak diartikan sebagai tujuan melainkan sebatas sarana. Karena itu penggunaannya pun seyogianya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan belaka.

Saudaraku, mari kita lihat hal-hal yang merusak umat manusia.

Pertama: Pelit. Dalam hadits itu, Rasulallah SAW menggunakan kata “as-Shuh”, bukan “bakhil”. Kata tersebut punya makna lebih pelit dari sekedar pelit. Kira-kira, orang yang memiliki sifat as-shuh itu bukan cuma pelit pada orang lain, tetapi juga pada diri sendiri. Pada diri orang itu terkumpul semua sifat pelit: kikir, kedekeut dan borok-sikutan.

Sifat seperti itu sangat tak terpuji. Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tak habis fikir dengan orang pelit. Orang miskin berlari darinya. Sedangkan orang kaya meninggalkannya dalam membanggakan harta. Di dunia, dia hidup dalam kemiskinan. Di akhirat dia dimintai pertanggung-jawaban dalam kelompok orang-orang kaya”. Maka, renungkanlah pesan bijak Rasulallah SAW berikut ini. Beliau SAW berkata, “Jauhilah perbuatan sangat kikir karena ia merusak orang (kaum) sebelum kamu”. (HR Abu Dawud).

Kedua: Perusak yang kedua adalah hawa nafsu yang selalu diikuti. Pepatah mengatakan, “nafsu bagaikan anak kecil. Jika engkau tak pandai mengendalikannya, maka engkau akan dikendalikannya”. Ungkapan itu benar sekali. Anak kecil yang merengek minta permen, misalnya, jika dituruti justru akan menjerumuskannnya pada sakit gigi. Tokoh yang terus mengikuti hawa nafsu adalah Fir’aun. Nafsu kekuasaan telah menjadikan dirinya sombong, serakah, dan akhirnya berkata, aku adalah tuhan kalian.

Demikian halnya dengan Qarun yang terlena dengan gemerlap harta. Allah SWT abadikan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS Al-Qashash: 76)

Ketiga: Menyombongkan diri sendiri. Membanggakan kualitas diri sendiri bisa menjerumuskan seseorang kepada perilaku menyepelekan orang lain atau ‘ujub. Sedemikian bahayanya penyakit ‘ujub sehingga Ibnul Qayyim berkata, “Seseorang yang tertidur di malam hari lalu menyesal di pagi hari adalah lebih baik dari pada seseorang yang tahajud di malam hari lalu menyombongkan diri (dengan tahajud itu) di siang hari”.

Semoga kita berhasil mendapatkan tiga penyelamat, dan terhindar dari tiga perusak itu.

Wallahua’lab bis showwab.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur