Breaking News
Suami-istri tetap mesra di usia senja. (Foto : Istimewa)

PAHALA SENJA

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Suami-istri tetap mesra di usia senja. (Foto : Istimewa)

 

Sepasang kakek nenek tengah asyik bercengkerama di taman belakang rumahnya. Dengan sabar, kakek itu menyuapi nenek dalam keindahan sisa-sisa gelora cinta. “Kenapa kamu telaten sekali menyuapi aku sampai kita setua ini?” tanya nenek itu memecah keheningan suasana. “Dulu, waktu kita muda, aku sudah banyak bersedekah”, jawab kakek. “Maksudnya?” tanya nenek lagi.

“Hubungan suami isteri itu bernilai sedekah. Suatu hari, para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala?.

 Rasulallah ﷺ menjawab, “Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala” 

“Bukankah kita sudah melewati masa itu?”. Lanjut sang Kakek.

Nenek tersipu malu. Kerut di wajahnya menyisakan kecantikan di saat muda dulu. Ia teringat masa-masa penganten baru, saat bergaun putih dan dibisiki suaminya, “Aku menulis namamu beralasakan angin, aku menggambar wajahmu di permukaan air. Kutahu angin tak dapat bercerita dan air tak berdaya awetkan sketsa. Tak mengapa, sebab bagiku kau selalu ada dalam setiap masa”.

Persis seperti kata Nizar Qabbani,

كُنْ مَجْنُوناً لاِجْلِهاَ، فَلاُنْثَى لاَ يُغْرِيهاَ حُب العُقَلاء

“Menjadi gilalah saat engkau mencintai wanita, sebab wanita tak terpesona dengan cinta orang yang hitung-hitungan”. 

Kini kehidupan mereka telah senja. Di tengah kicauan burung dan nyanyian ranting, di taman rumahnya yang asri itu, mereka merengkuh telaga kedamaian di masa tua. “Lalu kenapa terus menyuapi aku?” tanya nenek itu masih penasaran. “Sebab, Rasulallah ﷺ pernah berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqas, “Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang dengannya engkau mengharap ridha Allah kecuali bahwa engkau akan mendapat pahala, bahkan pada setiap suapan yang kau berikan ke mulut istrimu juga”.

Betapa indahnya Islam, pada setiap masa ada peluang pahala.

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.