Breaking News

Kebiasaan yang Membuat Kemampuan Otak Menurun

Ilustrasi hasil scan MRI dari bagian-bagian otak. Getty Images/iStockphoto

 

thayyibah.com :: Ibarat sebuah prosesor pada komputer, otak manusia memiliki kapasitas kemampuan tertentu. Pada usia senja, kemampuan otak pun makin menurun termasuk kemampuan kognitif. Namun, penurunan kemampuan otak seseorang terjadi bisa lebih cepat ihwal tindakan atau kebiasaan, termasuk soal mengemudi kendaraan.

Kishan Bakrania, ahli epidemologi medis di Universitas Leicester, pernah melakukan penelitian tentang efek mengemudi bagi kesehatan tubuh seseorang. Hasilnya menyetir kendaraan selama dua sampai tiga jam setiap hari berdampak buruk bagi hati, bahkan organ tubuh lain yang juga sangat vital.

Dalam ulasan di Independent, belum lama ini, Bakrania dan rekannya melibatkan 500.000 warga Inggris untuk menjadi partisipan riset. Mereka berusia kurang lebih 37-73 tahun dan memiliki frekuensi mengemudi yang berbeda-beda tiap hari. Responden yang mengemudi tiap hari hingga berjam-jam sampai yang tak mengemudi sama sekali.

Para peserta melalui tes kecerdasan dan ingatan yang diambil sejak awal, hingga lima tahun setelahnya. Rentang lima tahun dipilih karena penurunan daya kognisi seseorang terlihat dalam rentang waktu itu. Hasilnya, Bakrania mendapati dari 93.000 partisipan yang menyetir kendaraan lebih dari dua hingga tiga jam sehari memiliki kemampuan otak yang lebih rendah di awal riset dan terus menurun. Tingkat penurunannya lebih cepat dibanding para partisipan yang menyetir dalam durasi lebih singkat atau kelompok yang tak menyetir.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa menyetir lama tiap hari juga berdampak buruk bagi otak Anda. Kemungkinan karena pikiran Anda tidak aktif selama melakukan aktivitas tersebut,” kata Bakrania dikutip dari Independent.

Sering menyetir hanya salah satu kebiasaan yang bisa berdampak terhadap kemampuan kognitif, setidaknya menurut studi Bakrania. Kemampuan kognitif yang berkaitan dengan skor Intelegent Quotient (IQ) ini adalah dampak laten atau terasa dalam jangka waktu yang lama, atas gaya hidup yang sehari-hari. Para peneliti di masa lalu mendapati temuan sejak 1930-an naiknya standar hidup masyarakat dunia berkontribusi terhadap berkembangnya angka rata-rata IQ penduduk global.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir para peneliti mulai gelisah. Alih-alih kenaikan skor IQ makin merata ke seluruh wilayah, terutama di negara-negara berkembang dan kawasan negara miskin, yang muncul justru fenomena penurunan angka rata-rata IQ. Kecerdasan kolektif umat manusia tercatat turun satu poin dalam 50 tahun terakhir. Gaya hidup yang terlampau modern dijadikan tersangkanya.

Selain menyetir terlalu lama, penurunan daya kognisi manusia juga bisa turun secara pelan tapi akibat menonton televisi minimal tiga jam per hari. Sebagai produk terpopuler di awal era modern, televisi dan efek konsumsinya telah jadi objek penelitian yang laris. Maka hasil riset Bakrania memang tak terlalu mengejutkan lagi.

Setelah era manusia bergantung pada televisi konvensional makin berkurang, kini orang-orang mulai ketergantungan pada gawai seperti ponsel pintar, komputer, atau laptop. Di era segalanya bisa dicari dengan mudah di mesin pencari. Pertanyaannya, apakah  ini juga berdampak pada kemampuan kognisi manusia modern?

Infografik kebiasaaan yang buruk bagi otak

Betsy Sparrow dari Universitas Columbia melakukan riset bersama dengan dua rekan dari Universitas Wisconsin-Madison dan Universitas Harvard pada 2011. Hasil riset yang dipublikasikan pada Jurnal Science berjudul Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips ditemukan perubahan di otak orang yang memiliki ketergantungan tinggi pada mesin pencari Google.

Perubahan itu meliputi daya ingat yang menurun dan menyebabkan orang yang bersangkutan mudah lupa seperti lupa menaruh barang yang diperlukan. Perubahan ini terjadi sebagai efek dari memperlakukan mesin pencari seperti Google sebagai sarana mencari segala hal termasuk yang sebenarnya bisa diingat. Daya ingat seseorang atas barang pribadi melemah semenjak ketergantungan atas mesin pencari semakin intens.

Ada ihwal kebiasaan yang juga memengaruhi otak seseorang, yaitu multitasking, yang orang modern kerap lakukan terutama saat sedang menghadap laptop/komputer/ponsel pintar sekaligus berselancar di dunia maya, juga termasuk gaya hidup yang bisa membuat kemampuan kognisi seseorang menurun. Otak manusia terbatas untuk melakukan multitasking. Ada yang memang mampu tapi jumlahnya amat sedikit.

David Strayer dan Jason Watson, dua orang psikolog dari University of Utah mengemukakan fakta tersebut dalam penelitian pada 2010. Dari hasil penelitian mereka, terungkap bahwa hanya 2,5 persen dari populasi yang mampu melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan dengan baik, dan mereka menyebut orang-orang luar biasa tersebut dengan istilah “supertasker”.

Di luar 2,5 persen, orang-orang yang tetap melakukan multitasking sedang membahayakan otak mereka sendiri. Pada 2005, sekelompok peneliti dari the Institute of Psychiatry dari the University of London menyatakan bahwa melakukan multitaskingdapat memengaruhi tingkat IQ mereka.

Pada studi untuk Hewlett Packard, para peneliti tersebut menyatakan bahwa para pekerja yang perhatiannya terpecah karena email dan telepon yang masuk mengalami penurunan IQ hingga 10 poin. Seperti dikutip dari BBC, penurunan itu sama dengan yang terjadi pada mereka yang begadang dan lebih tinggi dua kali dibandingkan mereka yang sedang mengisap mariyuana.

Gaya hidup yang tak sehat telah dibuktikan oleh beberapa riset mampu membahayakan otak. Maka hindari tidur yang tak berkualitas atau kurang dari delapan jam sehari. Makan yang seimbang juga sangat penting, termasuk menghindari konsumsi garam, selain mengancam darah tinggi, tapi juga defisit kognisi minor pada otak.

Ihwal lain yang jadi kebiasaan buruk adalah mendengar musik dengan volume kencang juga bisa menyebabkan penurunan daya kognisi seseorang. Selain dari musik bervolume kencang, manusia modern juga terpapar banyak sumber polusi suara. Conserve Energy Future menyebutkan beberapa sumber suara dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya industrialisasi, tata kota yang buruk, kegiatan sosial, transportasi, aktivitas konstruksi, hingga peralatan rumah tangga. Kebiasaan dan kondisi tersebut akan membuat seseorang mudah terkena gangguan pendengaran.

Sebuah studi yang dilaksanakan Frank R. Lin dan kawan-kawannya di Universitas John Hopkins pernah merilis temuan tentang kehilangan pendengaran dan demensia. Disebutkan bahwa penderita gangguan pendengaran memiliki risiko 30-40 persen lebih tinggi mengalami gangguan kognisi. Maka sudah sepatutnya mencegah dengan mengurangi volume saat mendengar musik. Menjaga pendengaran adalah langkah awal yang baik untuk menjaga ingatan di masa depan.

Sumber: tirto.id

About A Halia