Breaking News

Sifat Bidadari Langit yang Bisa Ditiru Wanita Dunia

bidadari

thayyibah.com :: Menyebut bidadari, kita langsung membayangkan perempuan langit yang sangat cantik dan lembut, sempurna segala-galanya, tiada padanannya. Namun di dunia ini juga, kita sering mendengar seorang laki-laki, suami atau ayah, memanggil istri atau anak perempuannya dengan sebutan my angel, bidadariku.

Tentu bukan berarti istri atau anak perempuannya itu adalah jelmaan perempuan langit yang turun ke bumi melalui jembatan pelangi seperti kisah Jaka Tarub. Tapi lebih kepada si laki-laki tadi merasa bahwa sifat-sifat bidadari seolah ada dalam diri sang istri atau anak perempuannya tersebut.

Bisakah? Wanita dunia memiliki sifat bidadari langit?

Allah SWT dalam Al-Qur’an ada menyebutkan beberapa sifat bidadari surga. Kita bisa coba menirunya, pelan-pelan namun penuh kesungguhan, dengan memohon pertolongan Allah tentu saja, agar lambat laun sifat itu menetap dalam diri kita.

1. Bermata indah dan membatasi pandangan (QS 44:54; 52:20; 56:22 dan 37:48)

Bidadari bermata indah disebut paling banyak. Mata yang  indah, lentik, cantik dan jelita secara fisik, laksana telur yang tersimpan baik. Dan bening laksana mutiara yang terpelihara. Menyempurna dengan bingkai kulit wajah nan halus putih bersih dan rambut berkilau.

Wanita dunia dilahirkan dengan fisik yang tak selalu sempurna. Jadi meniru bidadari secara fisik, jelaslah seperti pungguk yang merindu bulan. Tak kan pernah kesampaian. Tapi kita, wanita dunia, masih bisa meniru bagaimana mata indah itu mereka gunakan. Ini dikabarkan dalam QS 37:48; 38:52; dan 55:56.  Para bidadari itu ternyata sangat membatasi pandangannya. Pandangan mata mereka terpelihara, tidak liar dan hanya tertuju pada pasangan mereka. Mereka tidak menginginkan yang lain kecuali suami mereka.

Allah pun ada menyuruh wanita dunia menundukan pandangannya, bukan? “Katakanlah kepada wanita-wanita mukmin hendaklah mereka menundukan pandangan mereka,..” (QS An Nur : 31). Seolah Allah tengah mendidik wanita dunia yang mukmin menjadi bidadari surga. Ma syaa Allah.

Tak hanya membatasi pandangan dari melihat laki-laki lain yang bukan suaminya, tapi juga melihat hal-hal lain yang mungkin tidak disukai suaminya atau benda-benda lain yang mungkin bisa menyebabkan kesusahan pada suaminya.

Zainab binti Jahsy, istri yang dinikahkan pada Nabi SAW langsung oleh Allah, mencontohkan bagaimana ia memelihara tak hanya pandangan matanya namun juga pendengarannya. Hal ini dituturkan ‘Aisyah sendiri saat ia berkisah tentang fitnah selingkuh yang menimpanya.

“…Rasulullah juga pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy tentang diriku, ‘Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui atau apa pendapatmu?’ Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku membatasi pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatupun tentang dirinya kecuali yang baik’ Dia adalah salah satu istri Nabi SAW yang biasanya ingin menyaingiku, tetapi dia dijaga oleh Allah dengan sifat wara’ (HR Al-Bukhari no 4750)

Sifat wara’ mencerminkan kehati-hatian yang luar biasa dengan tidak mendekati sesuatu yang haram dan yang meragukan atau syubhat.

Jika mata kita masih suka jelalatan, apa mungkin kita bisa seperti bidadari?

2. Tidak pernah disentuh oleh jin dan manusia, sebelumnya (QS 55:56 & 74)

Inilah sifat bidadari. Pandai memelihara kehormatan dirinya. Menutup auratnya dari pandangan dan sentuhan laki-laki yang bukan suaminya.

Allah pun ada mengajarkan wanita dunia bagaimana cara menjaga kehormatan diri.

“…dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan auratnya kecuali yang biasa nampak. Dan hendaklah mereka menutupkan khimar/ kerudung ke dada mereka,  …” (QS An Nur : 31)

Pakaian muslimah yang menutup aurat dengan syar’i adalah satu-satunya cara agar wanita dunia tak disentuh oleh tangan maupun pandangan laki-laki yang bukan suami mereka. Jadi yang belum menutup aurat, layakkah dipanggil bidadari?

3. Baik dan cantik (QS 55:70)

Seperti mata indah bidadari, cantik ini pun cantik secara fisik yang tak bisa disamai oleh wanita dunia ketika masih di dunia. Namun ada sifat ‘baik’ yang masih mungkin bisa dikejar oleh wanita dunia. Rasulullah menjelaskannya saat Ummu Salamah bertanya tentang arti baik dan cantik ini.

“Beliau menjawab, ‘Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita’.” (HR Ath-Thabrani)

Akhlak baik. Dan Rasulullah diutus tak lain untuk memperbaiki akhlak. Panduan apa dan bagaimana akhlak baik itu, masih bisa kita baca sama seperti saat pertama kali panduan itu turun 1400 tahun lalu, Al-Qur’an. Kalau jarang membaca Al-Qur’an, mungkinkah akhlak kita bisa sebaik bidadari?

4. Dipingit dalam kemah-kemah (QS 55:72)

Sifat bidadari ternyata juga tak suka keluyuran. Maka kini kita mengerti, mengapa para ummul mikminin diperintah oleh Allah SWT untuk tetap tinggal di rumah mereka.

“Wahai istri-istri Nabi, ….dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian,…” (QS Al-Ahzab:32-33)

Rupanya Allah hendak mensucikan mereka sesuci para bidadari, agar layak mendampingi Rasulullah SAW di surga nanti.

Kita bisa coba meniru mereka dengan mulai memperbaiki jadwal keluar rumah kita. Jadwal keluar rumah yang tidak memberikan pahala buat kita, sebaiknya kita pertimbangkan ulang. Jadwal keluar rumah yang jelas-jelas masuk kategori menyia-nyiakan waktu, apalagi tanpa seijin suami, sebaiknya kita coret tanpa kompromi. Berani mencoba?

5. Perawan, Penuh cinta dan Sebaya Umurnya (QS 38:52;  56:36-37).

Ummu Salamah pernah bertanya tentang arti sifat ini, dan Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal dunia dalam usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tua, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis (perawan), penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.” (HR Ath Thabrani)

Menjadi tetap perawan meski telah berhubungan dengan suami, atau tetap muda meski telah berpuluh tahun menikah, keduanya sama mustahilnya bagi wanita dunia. Semua yang di dunia ada umurnya. Namun sifat penuh cinta, bergairah dan mengasihi, masih bisa coba ditiru oleh wanita dunia. Sifat ini boleh jadi tak ada umurnya, bahkan dibawa sampai mati. Caranya tentu dengan melembutkan hati dan mensucikan pikiran. Banyak membaca Al-Qur’an dan banyak bersedekah. Berminat?

Dan ada kelebihan/keutamaan wanita dunia dibandingkan bidadari langit yang harus terus kita pertahankan ada dalam diri kita sampai ajal menjemput, yaitu sholat kita, puasa kita, dan ibadah kita kepada Allah.

Oleh: Pida Siswanti

About A Halia