Breaking News

Islam di Perancis

muslim-di-prancis-ilustrasi-_120315191010-478

thayyibah.com :: Tidak mudah memang hidup di lingkungan minoritas, apalagi seorang Muslim yang tinggal di negara yang menganut faham sekularisme, terlebih setelah Islam diidentikkan dengan terorisme, membutuhkan perjuangan ekstra untuk tetap berpegang teguh mempertahankan keimanan seseorang, dan kebanyakan Muslim Prancis adalah muallaf yang baru mengenal islam.

Untuk mencari makanan dan minuman yang halal saja harus mencari informasi dari berbagai sumber yang harus terpercaya, agar tidak memakan makanan yang melanggar aturan yang telah ditetapkan dalam kitab suci Al-Qur’an, tata cara berpakainpun harus diatur sedemikian mungkin agar tidak dicurigai masyarakat sekitar, ditambah minimnya sarana keagamaan di negeri yang tidak berdasarkan keagamaan.

Banyak sekali halangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh warga Muslim Prancis, masih ada sedikit diskriminasi yang masih menonjol dalam kehidupan sehari-hari mereka, walaupun begitu tak sedikit warga Prancis non-Muslim yang menghargai tetangga mereka yang notabenenya adalah seorang Muslim.

Menurut Jean-Pierre Filiu, Paris dengan jumlah penduduk Muslimnya sekitar lima juta orang, kini adalah negara Muslim terbesar di Eropa. Sebagian besar Muslim ini berkebangsaan Prancis. Hasil jajak pendapat menegaskan bahwa Muslim Prancis mendukung nilai-nilai pranata-pranata negara mereka.

Sungguh menakjubkan di negara yang penduduk mayoritasnya adalah non-Muslim, akan tetapi dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga negara Muslim Prancis. Bagaikan lilin dalam kegelapan, mereka mampu menjadi warga negara Prancis yang mampu bertahan dalam kalangan yang bukan mayoritas.

SIMBOL KEAGAMAAN YANG DILARANG

Menurut  Fahmi AP Pane, umat Islam seringkali dizholimi untuk kali kesekian oleh negara-negara Barat sekuler. Mulai 3 Februari 2004 parlemen Prancis membahas usulan pemerintahan Presiden Jacques Chirac untuk melarang pemakaian jilbab, kerudung dan hijab, mungkin juga jenggot, di sekolah dan instansi negeri serta tempat-tempat umum.

Kerudung dan jenggot dianggap simbol agama (symbole religieux), bisa menimbulkan aksi kekerasan, membahayakan kehidupan rakyat dan negara yang berdasar sekulerisme. Sehingga para siswa, tenaga pengajar, pegawai di sekolah negeri, sampai pegawai di lembaga milik pemerintah dilarang mengenakan jilbab.

Setelah kejadian runtuhnya gedung pencakar langit di Amerika, Muslim yang tinggal di negara barat pun harus hidup dengan aturan-aturan yang berlawanan dengan tuntutan agama, ini membuat ruang gerak bagi mereka sedikit terkekang oleh aturan tersebut. Di sini diskriminasi sangat terasa bagi umat Muslim karena memiki tata cara berpakaian yang lebih menonjol di banding agama-agama lain. Namun, tanpa pantang menyerah mereka bertahan menghadapi aturan-aturan yang mengekang dan terus berusaha untuk memperlihatkan simbol-simbol Islam dengan jalan yang hikmah.

PENDIDIKAN AGAMA YANG MINIM

Prancis termasuk di antara negara yang pemerintahannya tidak berdasarkan sistem keagamaan, sekolah-sekolah negeri tidak diperkenankan memberikan mata pelajaran agama kepada siswanya. Berbeda halnya dengan negara kita, sampai tingkat perguruan tinggipun mata pelajaran keagamaan masih disuguhkan dan menjadi mata pelajaran yang sangat dibutuhkan peserta didik. Di Prancis informasi tentang keagamaan sangatlah minim, ini menyebabkan banyaknnya warga Prancis yang tidak meyakini adanya tuhan, karena sejak kecil mereka tidak mengenal tuhan sehingga tidak adanya norma agama yang berlaku di sana, sehingga condong menuhankan ilmu pengetahuan. Peran keluarga disini sangat di perlukan untuk mengajarkan hal yang berkaitan dengan agama yang mereka anut, sehingga anak-anak tidak buta akan Alloh dan agama mereka.

KULINER HALAL

Dalam soal makanan, banyak sekali makanan atau kudapan yang berbahan alkohol dan mengandung daging babi di sana. Apalagi Prancis adalah produsen anggur terbesar di dunia dan penghasil ternak babi terbesar. Tidak saja dalam kue dan minuman, menu makanan sehari-haripun kerap dibubuhi alkohol dan mengandung daging babi.

Susah memang untuk mencari makanan halal dan enak di Prancis, untuk memastikan sesuatu dapat dimakan atau tidak, Muslim di Prancis harus mempunyai akses internet yang melangsir suatu zat atau makanan yang halal atau tidak, ini tentu saja memakan waktu dan kerja keras untuk tetap memakan makanan yang halal, tapi seiring dengan pesatnya pertumbuhan umat Muslim di Prancis maka ada toko atau supermarket yang menjual bahan makanan, makanan siap saji, daging beku, dan minuman yang halal bagi Umat Muslim, ada juga makanan khas Cina yang pemiliknya bukan orang Muslim pun mereka menyediakan makanan yang halal, memang keberadaannya masih sangat jarang dan susah untuk ditemukan, apalagi kalau terkadang harganya yang lumayan mahal, itu pun harus mencari tahu dengan bertanya kepada sang pemilik atau sang koki di dapur. Berbeda halnya dengan kita yang mendapat ketenangan hati untuk memakan makanan di mana saja dan kapan saja karena penjualnya adalah seorang Muslim. Sungguh melegakan setelah sekian lama bergelut mencari makanan halal, baru-baru ini terdengar kabar bahwasannya produk halal sudah mendapat tempat di hati konsumen, sehingga muncul pemberitaan makanan halal melalui media elektronik.

PERJUANGAN  UNTUK BERIBADAH

Menurut Rosita Sihombing (2008:139), sebagaimana di negara sub tropis lainnya, berpuasa di Prancis membutuhkan perjuangan yang lebih. Selain kultur budaya dan agama, faktor alam juga mempertebal perbedaannya. Jika bulan puasa jatuh pada musim dingin seperti Desember, Januari, atau Februari, warga Muslim di Prancis akan merasa beruntung karena puasa rata-rata 10 sampai 11 jam saja. Sebaliknya di musim semi dan panas, warga Muslim di Prancis  harus bersiap-siap menyimpan tenaga ekstra, karena puasa pada musim ini bisa sampai 19 jam.

Sungguh luar biasa jika harus berpuasa sampai 19 jam, untuk ukuran orang Indonesia menahan lapar dan haus sampai 19 jam itu sungguh berat rasanya, karena di Indonesia puasa hanya berkisar antara 14 jam saja, dan pola makan orang Indonesia yang memang kurang sadar gizi di banding orang-orang di Prancis.

Menjelang hari lebaran di Paris, semuanya nyaris tidak ada yang istimewa, tidak ada acara membut kue, membeli ketupat, atau melihat lautan manusia yang menghadiri shalat Ied di hari raya sebagaimana yang terjadi di negeri kita. Dan sungguh tidak adil jika pada liburan musim panas banyak orang yang mengambil cuti, tetapi untuk shalat Ied yang hanya setahun sekali malah tidak dipedulikan.

Rasanya tidak adil memang, mengapa hari raya umat Islam tidak diliburkan, atau dijadikan hari libur nasional layaknya di Indonesia, tetapi untuk agama lain ada beberapa peringatan keagamaan yang dijadikan hari libur nasional di Prancis. Namun bagaimanapun, kita semua tetap patut bersyukur, karena saudara-saudara kita di sana, masih tetap bisa sabar mempertahankan keimanan mereka, sekalipun kendala dan ujian keimanan setiap hari harus mereka hadapi.

Sumber: HASMI

About A Halia