Breaking News

Apakah Anda Orang Baik? Yakin?

Keharmonisan Suami Istri
Keharmonisan Suami Istri

thayyibah.com :: Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Apakah Anda orang baik? Dan apakah kita ingin menjadi orang yang baik?

Ini adalah sebuah harapan semua orang, terlepas seperti apa pengalamannya, latar belakangnya & kehidupannya. Semua orang ingin mendapatkan titel dan predikat baik. Oleh karena itu, jangan meng-klaim diri kita baik sebelum kita mendengar sebuah hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam At Tirmidzi, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan salah satu tolok ukur orang agar dikatakan sebagai orang yang baik.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan dalam sabda singkatnya:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri dan keluarga dan aku adalah orang yang paling baik dengan istriku.”
Saudaraku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Hadits ini menarik dan hadits ini menjadi bahan evaluasi kita. Sudahkah kita menjadi orang yang baik? Bukan klaim yang kita ucapkan dengan lisan kita, namun ini adalah titel yang diberikan oleh Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Apa standar Beliau? Diantara standar Beliau adalah apa yang disebutkan di dalam hadits di atas. Sebuah hadits yang terkesan sederhana namun tidak. Hadits ini sarat akan makna, karena ini salah satu tolok ukur kebaikan seseorang. Mengapa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjadikan sikap seorang suami terhadap istri sebagai tolok ukur kebaikan? Mengapa “istri” yang diangkat dalam hadits ini?
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengatakan:

“Yang paling baik dengan atasannya.”

“Yang paling baik dengan bosnya.”

“Yang paling baik dengan ustadznya.”

“Yang paling baik dengan mertuanya.”

(Akan tetapi) Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “Yang paling baik dengan istrinya.”

Ini sebuah tanda tanya besar yang harus kita jawab, yang harus dijawab oleh orang yang ingin mendapatkan gelar “BAIK” oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan pertanyaan di atas telah dijawab oleh para ulama kita, diantaranya Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhāni.

Beliau menjelaskan (dalam kitab Al Mau’izhah Al Hasanah fi Al Akhlāq Al Hasanah hal. 77-79):

Ada dua rahasia mengapa sikap terhadap istri yang dijadikan tolok ukur:
Pertama, karena istri adalah sosok yang tinggal bersama kita dalam satu atap. Bahkan bukan dalam satu atap, (tetapi) dalam satu kamar. Bahkan bukan hanya dalam satu kamar, (tetapi) satu tempat tidur/ranjang. Dan kita tidak mungkin bersandiwara dengan orang yang hidup dan tinggal bersama kita dengan cara seperti itu.
Seseorang bisa bersandiwara di hadapan orang luar rumahnya, tapi tidak dengan orang rumahnya. Di hadapan orang-orang rumah dia akan memperlihatkan dirinya sebenarnya. Dia akan menampakkan kelebihan atau kekurangannya. Semuanya akan dia perlihatkan di hadapan istrinya tersebut. Karena kehidupan di dalam rumah bukan panggung sandiwara dan bukan lokasi shooting. Aktor sehebat apapun itu, tidak bisa memperlihatkan akting sebagai orang baik di dalam rumahnya sendiri. Di dalam rumahlah kita akan memperlihatkan seluruh sisi di dalam diri kita.
Ketika seseorang itu emosional, (maka) dia akan emosi di dalam rumahnya. Ketika seseorang itu kasar, (maka) dia akan bentak dan dia akan maki istrinya. Dan ketika seseorang itu ringan tangan, (maka) dia akan melakukan KDRT kepada pasangannya. Seseorang tidak bisa berakting di hadapan istri yang senantiasa menemaninya, yang tinggal satu atap dengannya dan tinggal satu kamar dengannya. Seluruh rahasianya akan dilihat oleh mata kepala istrinya, bahkan mendengkur kitapun istri kita tahu.Dan pakaian apapun kita perlihatkan di dalam rumah di hadapan istri kita.

Seseorang mungkin tidak akan berani memakai kaos kutang di hadapan bosnya, tetapi memakai kaos kutang dihadapan istri? Saya rasa hampir semua suami melakukannya. Kalau pakaian saja demikian, begitu juga dengan sikap, karakter dan emosi. Seseorang tidak bisa bersandiwara dan menutupi kelemahan menutupi keburukannya di hadapan istrinya. Maka apabila dia baik dengan istri maka in syā Allāh dia orang baik

Kedua, karena secara umum istri itu lebih lemah dari pada suami; secara fisik, secara kedudukan.

Allāh berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

“Laki-laki itu pemimpin bagi para wanita/istri.” (QS An Nisā: 34)

Pembagian tugas yang sangat sempurna dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bukan merendahkan salah satu pihak. Para istri secara umum lebih lemah dari suami. Dan kita tidak bisa jaga image (bersandiwara) dengan orang yang lebih lemah dari pada kita. Kita mungkin bisa menebar senyum atau tebar pesona di hadapan manajer kita atau komisaris kita, tapi kita akan tampil apa adanya di hadapan bawahan kita.

Oleh karena itu sebagian orang mengatakan:

“Jika kita menilai apakah orang tersebut baik atau tidak, lihat bagaimana ia berinteraksi dengan bawahannya.”

Bagaimana dia menyikapi pembantunya? Bagaimana berbicara dengan supirnya; kasar atau tidak, suka bentak atau tidak? Karena seseorang akan menampilkan gaya bahasa apa adanya di hadapan orang-orang yang berada di bawahnya. Ini yg perlu kita camkan. Dan ini yang menjadikan Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjadikan sikap seorang suami terhadap istrinya sebagai salah satu tolok ukur kebaikan.

Para suami, marilah kita menjaga sikap kepada istri kita, takutlah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Nasehati dan bersikaplah baik terhadap istri-istri kalian.”

(HR Al Bukhari III/1212 no 3153 dan V/1987 no 4890 dari hadits Abū Hurairah)
Mungkin kita bisa mengasari mereka di dunia yang fana ini, tapi ingat adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan ingat, sehebat apapun qiyamulail dan puasa Nabi Daud kita, sebanyak apapun dzikir kita, kalau standar yang satu ini tidak kita penuhi maka kita belum bisa dikatakan orang baik.
Dua alasan itu membuka mata kita dan inilah yang dimiliki oleh Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Oleh karena itu ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā pernah ditanya dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dalam Ādabul Mufrād (tentang) bagaimana akhlaq Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau mengatakan :

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlaq Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Al Qurān.”
Mungkin hadits ini sederhana dan pernah kita mendengar, namun tidak demikian bagi orang yang memahami. Ini adalah pujian dari seorang istri, seorang istri memuji suaminya.

“Akhlaq suamiku (Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam) adalah Al Qurān.”

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Al Qurān berjalan. Sudahkah istri kita memberikan komentar positif tentang kita? Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan teman-temannya? Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan ibunya atau sahabat teman curhatnya? Kalau istri kita sudah memuji kebaikan kita, kedermawanan kita, kelembutan kita, maka in syā Allāh kita orang yang baik.
Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah dipuji pembantunya Anas bin Mālik, beliau mengatakan:

“Aku pernah melayani Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam selama 10 tahun dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan ‘ah’ sama sekali.

Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan, ‘Kenapa engkau melakukan ini? Harusnya itu begini’. ” (HR Muslim)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengucapkan kata-kata itu di hadapan pembantunya yang melayani dia selama 10 tahun. Coba kita tinjau diri kita, apakah kita sudah bisa melakukan demikian? Kita punya pembantu 10 tahun lalu kita tidak pernah mengatakan “ah”, kita tidak pernah mengkomplain, kita tidak pernah menghardik dan mencaci? Kalau dia salah, (maka) kita luruskan dengan baik. Inilah alasannya. Maka sekali lagi, Istri kita lebih lemah dari kita dan istri kita hidup bersama satu atap dengan kita. Sehingga kita tidak bisa bersandiwara, maka: jagalah sikap kita dengannya, perbaiki tutur kata di hadapannya, dengarkan curahan-curahan hatinya. Jadi teman yang baik dengan istri kita, bukan hanya sekedar memuaskan nafsu syahwat kita, dan santunlah di hadapannya. Karena dia adalah ibu dari anak-anak kita dan teman hidup kita. Dan utama nya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri dan aku adalah orang yang paling baik (di hadapan) istriku.” (put/thayyibah)

About Lurita

Online Drugstore,cialis next day shipping,Free shipping,order cialis black,Discount 10%, dutas buy online