Oleh : Davy Byanca

Sahabat sufiku.
SEORANG USTADZ memuji kebaikan dan kedermawanan seorang pensiunan Jenderal mantan petinggi Polisi di Negeri Dongeng. Ia berkata, “Sungguh mulia hari pak Jenderal, setiap tahun bisa memberangkatkan sampai 6 kali para ustadz dan marbot dari masjid-masjid yang ada. Setiap kali keberangkatan sekitar 50-70 orang, plus uang saku. “Alhamdulillah kalau begitu. Mudah-mudahan apa yang dikeluarkan sesuai dengan apa yang diterima”, kataku. Kerana aku ingat apa yang disampaikan oleh Imam Hasan al-Bashri, “Jika kelian ingin mengetahui darimana seseorang memperoleh harta maka perhatikanlah untuk apa harta itu digunakan: kerana yang buruk itu akan digunakan pada hal-hal yang sia-sia atau pemborosan. Aku maklum dengan komentar si ustadz, kerana setiap kali keberangkatan umrah, ia pasti ikut serta sebagai perwakilan dari pak Jenderal.
TAK SEDIKIT yang kutemui para pejabat yang ‘dermawan’ tapi di sisi lain, uangnya sebagian besar dihabiskan untuk proyek cuci uang menggunakan nama-nama public-figure agar tak terlacak perolehannya darimana. Atau yang dihabiskan untuk membeli properti dengan menggunakan nama orang lain, yang kadang dinikahi secara siri agar hartanya tak terlacak oleh publik dan KPK. Makanya aku pun hati-hati dalam menanggapi perkataan pak ustadz, kerana bagiku kita juga perlu menelusuri jejak moral di balik kepemilikan harta. Banyak orang sibuk bertanya darimana kekayaan seseorang berasal, namun lupa bahwa arah penggunaan harta seringkali jauh lebih jujur dalam berbicara. Lidah bisa berbohong, laporan kekayaan harta bisa dimanipulasi, citra bisa dipoles, tapi cara seseorang membelanjakan hartanya hampir selalu mencerminkan nilai yang hidup di dalam dirinya. Kerana harta bukan alat pemenuh kebutuhan, melainkan cermin kesadaran. Uang akan selalu mengalir ke tempat yang dicintai oleh pemiliknya.
ARTINYA, jika harta jatuh pada kesia-siaan, pamer dan pemborosan, di sana kita bisa melihat orientasi hidup yang rapuh. Sebaliknya, jika harta mengalir untuk kebaikan, kebermanfaatan dan menenangkan kehidupan orang lain, di situ tampak harta itu berada di tangan yang sadar, bukan di hati yang dikuasai oleh nafsu. Tapi ada kalanya, agar tampak terlihat seimbang; ada orang yang sebagian hartanya digunakan untuk kebaikan dan sebagian lagi digunakan untuk kemaksiatan. Ibarat Robin Hood yang merampok harta orang kaya lalu dibagikan ke rakyat miskin. Ia ingin menipu Allah tapi kata Allah, “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. Qs al-Baqarah: 9. Sejatinya sifat harta itu netral, ia akan mengikuti arah jiwa pemiliknya. Jiwa yang bersih menjadikan harta sebagai sarana mendekat kepada makna hidup. Jiwa yang keruh menjadikan harta sebagai alat pelarian dari kekosongan batin. Pada akhirnya kualitas harta bukan ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh nilai yang menuntunnya.
KERANA KEGERAHAN saking seringnya si ustadz memuja-muji pak Jenderal, aku akhirnya berkata, “Pernahkah pak ustadz menelusuri jejak moral di balik perolehan harta seorang Jenderal yang kaya-raya, bukankah gaji setiap pejabat di negeri ini terukur?” Sang ustadz beranjak meninggalkanku, seakan tidak mau mendengar, apalagi menjawab pertanyaanku. Bagiku, pemborosan kerap kali menjadi tanda kegelisahan yang tak terselesaikan; seberapa banyak pun kita membiayai orang-orang pergi umrah, jika itu dilakukan untuk menutupi kekosongan jiwa, agar masyarakat bertepuk tangan, maka sejatinya ada kegamangan, kecemasan, dan potensi kehilangan arah hidup yang menyelimuti dirinya. Pelajaran penting yang kita petik dari peristiwa ini: ke mana sebenarnya harta kita selama ini kita arahkan. Tabik Puang ..!
Sekian.
Thayyibah