Breaking News

Memoar Terakhir Virginia: Puncak Gunung Es Kejahatan Sang Elit

Catatan Agus M. Maksum

Virginia Roberts Giuffre adalah martir pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi meruntuhkan tembok impunitas. Melalui kesaksiannya, ia membongkar kebejatan Epstein Files, menyeret para penguasa dunia, dan menjadi suara bagi keadilan.

Dunia kembali tersentak. Sebuah naskah memoar yang ditulis oleh Virginia Roberts Giuffre berjudul “Nobody’s Girl” akhirnya dilepas ke publik secara anumerta pada 21 Oktober ini. Virginia, sosok yang kita kenal sebagai martir dalam mengungkap jejaring gelap Jeffrey Epstein, memang telah tiada pada April 2025 lalu. Namun, dari balik kuburnya, suaranya justru terdengar lebih lantang, lebih tajam, dan lebih mengerikan.

Ini bukan sekadar buku. Ini adalah dokumen perlawanan.
Predator di Balik Kemewahan Mar-a-Lago
Narasi Virginia membawa kita kembali ke Florida, ke sebuah tempat bernama Mar-a-Lago, klub elit milik Donald Trump. Di sanalah, Virginia kecil yang ayahnya hanyalah seorang staf pemeliharaan, mulai masuk ke dalam pusaran yang tidak ia pahami. Ia bercerita bagaimana ia direkrut saat sedang bekerja di spa.

Menariknya, di sini Virginia menyebut kemunculan Ghislaine Maxwell sebagai “Predator Puncak”. Bayangkan, seorang gadis remaja didekati oleh mobil mewah, ditawari masa depan, namun ternyata itu adalah awal dari sebuah perdagangan manusia (human trafficking) yang terstruktur. Meski ada klaim bahwa Trump tidak terlibat langsung, fakta bahwa Virginia “dicuri” dari lingkungan Mar-a-Lago menunjukkan betapa mudahnya para pemangsa ini beroperasi di sela-sela kehidupan para penguasa.

Pangeran yang Merasa Memiliki Hak Lahir atas Seks
Bagian yang paling mengguncang adalah detail keterlibatan Pangeran Andrew. Virginia menuliskan pengalamannya dengan sangat pedih. Ia menggambarkan sang Pangeran sebagai sosok yang merasa bahwa berhubungan seks dengan gadis remaja adalah “hak istimewanya sebagai bangsawan”.

> “Dia ramah, tapi merasa berhak. Seolah seks adalah hak lahirnya,” tulis Virginia.
>
Kita melihat bagaimana kekuatan gelar dan darah biru digunakan untuk menindas martabat manusia. Meski Andrew telah melepas gelar militernya dan membayar penyelesaian hukum, memoar ini memberikan “pukulan terakhir” yang membuktikan bahwa uang tidak bisa membeli ingatan seorang korban. Wajah yang hanya berjarak enam inci saat pemerkosaan terjadi, menurut Virginia, tidak akan pernah bisa dilupakan.

*Mekanisme Pemerasan di Level Global*
Lebih jauh lagi, memoar ini menyentuh sisi gelap ekonomi dan politik global. Virginia mengungkap teori yang selama ini kita curigai: Pemerasan. Bagaimana mungkin seorang Jeffrey Epstein, yang hanya seorang guru pengganti, bisa memiliki kekayaan luar biasa dan berteman dengan miliarder sekelas Leon Black hingga Bill Gates? Virginia memberikan petunjuk tentang adanya “materi pemerasan”. Jika seorang miliarder bisa diancam melalui skandal perselingkuhan atau perilaku menyimpang, maka Epstein sebenarnya memegang kendali atas banyak kebijakan dan keputusan penting di dunia ini.

*Sebuah Warisan Transparansi*
Sahabat, apa yang ditinggalkan Virginia melalui bukunya adalah sebuah pesan penting tentang akuntabilitas. Ia tidak hanya bercerita tentang rasa sakitnya, tapi ia membuka jalan bagi penyintas lain untuk bicara.

Kita melihat pola grooming (pemanipulasian) yang sangat rapi. Bagaimana Maxwell dan Epstein berperan seolah-olah sebagai sosok orang tua, memberikan kasih sayang palsu, hanya untuk kemudian menjualnya kepada para pejabat, senator, hingga profesor.

Virginia memang sudah pergi, tapi memoar ini memastikan bahwa “daftar nama” itu tidak akan pernah benar-benar terkubur. Tekanan untuk transparansi kini berada di titik tertinggi. Jika keadilan tidak bisa didapatkan sepenuhnya di ruang sidang, biarlah sejarah mencatat siapa saja mereka yang telah menghancurkan masa depan anak-anak demi pemuasan nafsu dan kekuasaan. (Susra Kita)

About Redaksi Thayyibah

Redaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *