Breaking News

Laras Berhak Untuk Hidup

Oleh : Davu Byanca

Sahabat sufiku.
USIA LARAS baru 3 tahun saat ibunya pergi. Katanya, kerja ke Arab, jadi TKW, tapi tak pernah kasih kabar. Ia pun lupa dengan paras ibunya. Sejak saat itu, ayahnya yang merawat, tapi tidak dengan cinta. Rumah pun menjadi neraka kecil baginya, tamparan dan sabetan tali pinggang sudah menjadi makanan pokok sehari-hari baginya. Laras mulai bekerja sejak kelas 4 SD berjualan kerupuk kulit punya tetangganya. Setiap bungkus yang laku, ia mendapat seribu rupiah. Tetangga banyak yang memanggil dirinya ‘anak haram’. Lahir di kampung pinggiran kota tahun 2000-an, Laras tumbuh besar dengan stigma anak broken-home. Anak seperti itu, distigma anak nakal, pembawa masalah.

SAAT REMAJA, ia merantau ke Bali, tapi lukanya semakin membesar. Ia kehilangan jati dirinya. Di Bali ia bekerja sebagai pelayan di resto. Tinggal di kontrakan sebelah rumah keponakanku yang bekerja di Bali. Pelariannya dari rumah tak juga mampu membuat jiwanya pulih. Ayahnya adalah pecandu narkoba dan penjudi berat. Sudah 3 kali masuk penjara. Setiap kali ayahnya berbuat kejahatan, ia juga yang dirongrong agar bisa menebus ayahnya dari tahanan Polsek. Di tengah kekalutannya menghadapi hidup, Laras memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia pergi ke Indomaret membeli; indomie rendang, kratingdaeng dan sebotol karbol. Ia sudah membuat skenario, ingin mati di usia 19 tahun. Malam ini adalah malam di mana ia dilahirkan 19 tahun lalu. Mie yang diseduhnya masih panas, sambil menunggu adem, Laras membaca buku biografi Oprah Winfrey (judulnya ‘What Happened to You? Conversations on Trauma, Resilience, and Healing’) yang dipinjamnya dari keponakanku. Sejak di Bali, ia terus mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya secara otodidak. Ia tertegun, ternyata masa kecil Oprah tak berbeda jauh dengan dirinya, “Gokil ni orang, ternyata ada orang yang kayak gini, bukan cuma aku doang ternyata”, gumamnya. Laras membatalkan meminum kratingdaeng campur karbol, tapi ia menyantap habis mie rendangnya. “Oprah aja bisa, masa aku nggak? Lagian indomie rendang masih enak buat disantap. Kenapa aku harus mati sebelum waktunya?”

SEJAK SAAT itu Laras aktif berbagi di media sosial. Ia ingin berkata kepada dunia bahwa masa kecilnya memang berat, tapi ia berhak untuk bahagia. Setiap orang berhak memilih arah hidupnya sendiri. Sejak kejadian itu, ia janji sama dirinya sendiri, akan membuktikan kalau label ‘anak haram’, ‘anak broken home’, ‘nakal’, itu semuanya tak benar. Tuhan ingin ia berjuang, Dia lalu mengirimkan orang-orang baik saat jiwa ingin menyerah. Mas Catur adalah salah satu pria baik yang dikirim Tuhan kepadanya. Mereka bekerja di restoran seafood yang sama di Nusa Dua. Sama-sama anak rantau. Mas Catur, ia percaya sebagai tempat curhatan hatinya, termasuk kisah di balik malam ulang tahun ke-19 nya. Catur tidak marah, tapi memberikan nasihat dengan lembut, yang tak pernah Laras rasakan sejak kecil. “Kadang harapan tak muncul dari hal besar cah ayu, tapi dari momen kecil yang terasa hidup. Bisa dari semangkok indomie, membaca buku, lagu lama yang kamu sukai atau mimpi apa yang ingin kamu capai”, ujar Catur saat sama-sama menikmati kopi usai pulang kerja.

SUATU MALAM seorang remaja laki-laki mengirim DM. Dia korban bullying di sekolah dan nyaris mengakhiri hidupnya. Tapi setelah bercerita, ia bilang, “Mbak, terima kasih sudah mau mendengar ceritaku. Rasanya lega. Aku batal mati malam ini”. Laras tersenyum sendiri. “Lucu ya semesta ini ya oom. Dulu aku pernah berdiri di tepi kematian. Sekarang tugasku, menghalau orang agar tidak mati konyol”, katanya kepadaku, saat aku mengundangnya makan malam bersama keponakanku dan suaminya. Kini Laras belajar berdamai dengan dirinya sendiri. Ia memutus kontak dengan ayah dan semua keluarganya, sebagai bentuk dari membangun batasan. Kini Laras bukan anak yatim sebatang kara lagi. Ia adalah perempuan yang berdaya, berharga dan layak untuk bahagia. Angin pantai Jimbaran menerpa kami, suara kelompok penyanyi keliling menyapa kami dengan lagu ‘Creep’ nya Radio Head dengan logat Batak. Bah cemmana … !

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *