Oleh : Geisz Chalifah

Lahir di Poncol Senen tapi bergaul ke mana-mana membuat hidup saya selalu berada di dua dunia; satu sisi kemiskinan yang telanjang, satu sisi kemewahan yang tak tersentuh.
Selain berteman dengan anak-anak Chinese di seberang rumah, Apin, Ace, Tekming, Alut, Afa, Apyau, Abun. Dll.
Persis di belakang rumah, jalan Kalibaru Timur, rumah ibu saya berada di persimpangan Letjen Suprapto dan Kali Baru Timur (Huk). Di belakang situ hidup lain menunggu.
Bila melangkah ke belakang, saya main dengan anak-anak Poncol. Di sana ada Iwan; ayahnya mengontrak tempat, untuk berjualan sebagai agen rokok. Tokonya ramai karena para pengecer mengambil stok untuk dijual kembali.
Setelah tutup malam hari, halaman toko berubah menjadi tempat nongkrong. Selalu saja ada yang berkumpul: Buyung, Edi Kiting, Edi Begeng, Uus, Iwan, dan beberapa lainnya. Mereka sering patungan membeli minuman alkohol; kadang Bier, Malaga, atau apa pun yang terjangkau.
Mereka tahu saya tak pernah doyan alkohol; selain memang tidak suka, mereka juga takut kalau saya ikut-ikutan lalu Umi saya tahu. Sudah pasti semua kena masalah; minimal disiram air got saat sedang kumpul. Lebih jauh lagi, Umi akan meronda tempat itu setiap malam. Perempuan itu sudah dianggap ibu oleh para preman di situ. Galak tapi rajin sedekah beras. Bicaranya nyablak seperti orang Betawi pada umumnya; tapi bila ada tetangga sakit, walau harus masuk gang kecil dan kumuh, becek, Ibu saya mewajibkan diri untuk hadir. Julukan Umi Poncol melekat. Para preman bukan takut, tapi lebih kepada sungkan. Dia melepas anaknya bergaul di lingkungan itu. Tapi hukumnya tetap berlaku, seolah punya bayak pasang mata untuk mengawasi.
Sekali waktu saya mencoba merokok saat masih kelas satu SMP; saya bukan dilarang, tapi di-kepret dulu lalu diantar pulang oleh preman senior di situ. “Yang lain boleh bengal, tapi elo jangan; kasihan Ummi,” katanya. Penjagaan itu menjadi berlapis-lapis.
Dilain waktu malam hari entah dari mana ibu saya lewat sambil berjalan kaki, anak-anak itu sontak berdiri, tapi ga berani menyalami hanya bicara dari kejauhan mulutnya sudah pada bau.
Emak-emak betawi suka doyan bicara. Menanyakan teman-teman itu satu persatu, ibu kamu baekk? Sehat? Kirim salam yee?
Iwan menarik saya agar saya mengantar segera Umi saya pulang. Saya ogah dan mendiamkan. Saya senang hati melihat mereka tegang setengah mati. “Ayoo rasain, pada mampus luhhh.” Pikir saya. Edi Kiting mendelik agar saya bergerak cepat. Lalu saya mengantar yang jaraknya cuma tiga rumah.
Daripada jadi masalah, teman-teman itu justru menjaga saya; semacam proteksi antarpreman kecil. Dan sampai hari ini saya tetap tidak doyan alkohol – mungkin doa Umi yang menjaga.
Tapi melihat mereka mabuk lalu jadi bego, bicara melantur, adalah hiburan tersendiri. Tidak ada yang sok jagoan; tidak ada yang kalau mabuk lalu bikin ulah. Kerana di situ tidak ada yang mundur kalau urusan berkelahi; maka satu sama lain saling jaga dan tidak ada yang merasa paling kuat. Tidak ada yang takut muka bonyok. Pergaulan jadi damai-damai saja.
Si vis pacem parabellum (jika ingin damai bersiaplah untuk perang). berlaku di situ.
Masa SMP dan SMA terlewati dengan selamat. Lalu kuliah – aktif di HMI, isafis. Dan berbagai organisasi lainnya. kegiatan kampus, dan kelompok diskusi – membuat waktu saya makin jarang untuk nongkrong. Kami tetap dekat, tetap saling hormat; tetapi orientasi hidup perlahan berubah. Hukum alam yang berjalan natural.
Saya mulai bisnis, berusaha menapaki hidup sambil kuliah; sementara yang lain sudah putus di tengah jalan bahkan sebelum tamat SMA. Sesekali saya masih duduk bersama mereka; pembicaraannya masih sama; kenakalan tetap dipelihara seolah bertambahnya umur tidak membawa pengaruh. Saya tak cerita apa pun tentang kegiatan saya belakangan; saya menjaga tetap sama seperti dulu – seolah tak ada yang berubah – agar tidak dilihat berbeda.
Lalu suatu hari Edi Begeng berkata, “Gue mau nikah. Lu datang ya.”
Saya bercanda, “Perempuan mana yang lu tipu sampai mau nikah sama elu?”
Dia menjawab dengan percaya diri, “Gini-gini gue masih laku.”
Hari pernikahannya tiba. Saya hadir, bahkan mengantar Edi ke rumah mempelai dengan mobil saya.
Di mobil saya protes:
“Ed, lu gila ya. Mau nikah kok bajunya kusam begitu?”
Edi hanya tertawa. Saya dan Iwan sudah urunan untuk biaya nikahnya; katanya dana itu sudah kepakai untuk kebutuhan lain. Calon istrinya tinggal di Manggarai. Ayahnya menyewakan komik di ruangan sempit – sekitar 3 × 3 meter. Akad nikah dilangsungkan di situ; sangat sederhana. Edi memakai kopiah hitam dan baju putih yang sudah agak kusam. Sederhana sekali.
Sebelum jalan saya meminta Edi kiting untuk ke proyek senen beli baju putih. Tapi Edi begeng menolak udah ga ada waktu katanya.
Malam harinya, di hari yang sama, pada tanggal yang sama, saya menghadiri pernikahan teman sesama anggota Isafis; di gedung mewah Manggala Wanabakti – salah satu gedung paling mewah pada masa itu. Mempelai perempuan adalah puteri dari Hartarto, Menteri Perindustrian. Calon suaminya – teman saya – juga anak mantan menteri dari era sebelumnya.
Sepanjang jalan menuju gedung, entah berapa ratus meter, bunga ucapan selamat berdiri bertumpuk tiga baris. Saat itu karangan bunga masih memakai bunga asli; harganya mahal. Mungkin ada ribuan karangan bunga. Jika ditotal nilainya, bisa membeli satu rumah di daerah Jakarta Selatan, Pasar Minggu, dan sekitarnya.
Hari itu saya menyaksikan dua pernikahan dari dua sahabat; dua dunia yang sangat kontras. Siang hari saya trenyuh oleh baju lusuh; malamnya saya terpana oleh gemerlap.
Di antara dua dunia itulah saya belajar menyeimbangkan diri.
Thayyibah