“Konflik Iran United States of Israel: Awal runtuhnya Petro-Dollar?”

Oleh : Dr. Erta Priadi Wirawijaya, Sp.JP

Beberapa minggu terakhir dunia kembali diingatkan bahwa minyak bukan sekadar komoditas energi. Ia adalah alat politik, alat tekanan, bahkan alat perang. Ketika Iran melakukan blokade di Selat Hormuz dan menargetkan kapal tanker yang diduga berkaitan dengan Amerika Serikat dan sekutunya, harga minyak dunia langsung melonjak. Dunia pun bertanya-tanya: apakah ini hanya eskalasi konflik biasa, atau ada permainan geopolitik yang jauh lebih besar di baliknya?

Banyak orang melihat peristiwa ini secara sederhana: Iran marah, lalu menutup jalur minyak. Seolah-olah ini hanya reaksi emosional dalam konflik militer. Padahal dalam geopolitik, langkah seperti ini jarang sekali bersifat spontan. Negara tidak bertindak seperti orang yang tersinggung di media sosial. Mereka bergerak seperti pemain catur yang sudah memikirkan beberapa langkah ke depan.

Secara umum, Selat Hormuz adalah salah satu jalur energi paling vital di dunia. Menurut berbagai laporan energi global, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat sempit ini. Artinya, jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya terasa di Timur Tengah, tetapi juga di Asia, Eropa, bahkan di negara-negara berkembang yang sama sekali tidak terlibat konflik.

Dari sudut pandang ekonomi global, lonjakan harga minyak ini seperti tekanan darah yang tiba-tiba melonjak pada tubuh manusia. Ketika tekanan naik terlalu cepat, organ-organ lain ikut terdampak. Ginjal bisa rusak, jantung bisa bengkak, pembuluh darah di mata bisa jebol. Secara ekonomi naiknya harga minyak akan mengakibatkan biaya transportasi naik, harga pangan ikut terdorong, inflasi merembet ke mana-mana. Negara yang bahkan tidak tahu detail konflik Timur Tengah pun bisa ikut merasakan dampaknya di dapur rumah tangga. Blokade selat hormuz tampaknya menjadi salah satu strategi Iran untuk menekan Amerika Serikat untuk mundur. Dan ini tampaknya mulai berhasil, appeoval rating presiden Trump terus turun, dan kini sebagian besar masyarakat AS sudah beranggapan bahwa naiknya harga minyak dikarenakan oleh kebijakan Trump yang salah.

Namun strategi Iran tampaknya tidak berhenti pada blokade semata. Belakangan muncul kabar bahwa Iran mulai mengizinkan kapal tanker melintas—dengan satu syarat penting: transaksi minyak dilakukan menggunakan Yuan, bukan dolar Amerika. Sekilas terdengar seperti kebijakan ekonomi biasa. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ini adalah langkah yang sangat strategis.

Di sinilah kita perlu memahami konsep yang sering disebut sebagai petro-dollar. Secara sederhana, sejak dekade 1970-an sebagian besar perdagangan minyak dunia dilakukan menggunakan dolar Amerika Serikat. Karena minyak adalah kebutuhan global, hampir semua negara harus memiliki cadangan dolar untuk membeli energi. Inilah salah satu alasan mengapa dolar menjadi mata uang dominan di dunia.

Analogi sederhananya begini. Bayangkan jika satu-satunya cara membeli beras di pasar adalah menggunakan satu jenis kupon tertentu. Maka semua orang akan berlomba menyimpan kupon itu. Dalam konteks global, dolar menjadi “kupon” tersebut. Ketika dunia membutuhkan minyak, dunia otomatis membutuhkan dolar.

Konsekuensinya besar. Selama dolar menjadi pusat perdagangan energi, Amerika Serikat memiliki keuntungan ekonomi yang luar biasa. Mereka bisa mencetak uang, menerbitkan obligasi, dan membiayai berbagai program—termasuk anggaran militernya yang sangat besar—karena permintaan terhadap dolar tetap tinggi di seluruh dunia.

Strategi Iran yang mulai membuka jalur minyak tetapi hanya untuk transaksi Yuan bisa dilihat sebagai upaya mengganggu sistem ini. Bukan lagi blokade total, tetapi blokade selektif. Negara yang bersedia menggunakan Yuan bisa lewat. Negara yang tetap ingin menggunakan dolar mungkin akan menghadapi hambatan.

Secara diplomatis, ini langkah yang cukup cerdas. Iran bisa tetap mempertahankan tekanan terhadap Amerika Serikat, tetapi sekaligus menjaga hubungan dengan negara lain yang membutuhkan minyak. Negara-negara di Asia misalnya—yang sangat bergantung pada energi—mungkin akan memilih solusi praktis: membeli minyak dengan Yuan agar kapal mereka bisa lewat dengan aman.

Namun strategi ini juga penuh risiko. Jika harga minyak terus melonjak terlalu tinggi, negara-negara yang awalnya bersimpati pada Iran bisa berubah menjadi frustrasi. Dalam politik internasional, simpati itu seringkali tipis sekali batasnya dengan kepentingan ekonomi. Ketika rakyat di negara lain mulai membayar bahan bakar lebih mahal, dukungan politik bisa cepat berubah arah.

Di Indonesia, dampak seperti ini sebenarnya tidak asing. Ketika harga minyak dunia naik, subsidi energi tertekan, harga barang naik, dan masyarakat kecil yang paling dulu merasakan efeknya. Kita sering lupa bahwa konflik ribuan kilometer jauhnya bisa memengaruhi harga beras, ongkos transportasi, bahkan biaya hidup sehari-hari.

Sebagai dokter, saya sering melihat bagaimana sistem tubuh manusia bekerja. Jika satu organ mengalami gangguan, organ lain akan ikut terdampak. Gigi yang bolong, rusak menahun misalnya, bisa mengakibatkan peradangan yang berujung pada rusaknya katup dan mempercepat proses terjadinya penyempitan pembuluh darah yang meningkatkan risiko stroke atau serangan jantung. Dunia juga bekerja seperti itu. Ekonomi global adalah satu tubuh besar. Ketika satu jalur energi terganggu, seluruh sistem merasakan tekanan.

Pertanyaan besarnya sekarang bukan hanya apakah Iran bisa bertahan dengan strategi ini. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah dunia mulai perlahan mengurangi ketergantungan pada dolar. Jika semakin banyak transaksi energi dilakukan dengan mata uang lain, dominasi petro-dollar yang sudah bertahan puluhan tahun bisa mulai tergerus.

Dan jika itu benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya pada harga minyak atau perang di Timur Tengah. Ia bisa mengubah keseimbangan kekuatan ekonomi global. Amerika Serikat mungkin tidak lagi bisa menjalankan kebijakan finansialnya dengan keleluasaan yang sama seperti sebelumnya.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa perubahan sistem global jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia biasanya berlangsung perlahan, penuh tarik menarik, penuh kompromi. Seperti penyakit kronis yang berkembang pelan-pelan sebelum akhirnya terasa dampaknya.

Bagi kita yang hidup jauh dari pusat konflik, mungkin yang paling penting adalah menyadari bahwa dunia sedang bergerak. Energi, mata uang, dan geopolitik semuanya saling terkait. Ketika negara-negara besar memainkan strategi mereka, dampaknya bisa sampai ke dapur rumah tangga masyarakat biasa.

Dan mungkin di situlah pelajaran terbesarnya. Dalam dunia yang saling terhubung ini, tidak ada konflik yang benar-benar jauh. Keputusan politik di satu selat sempit di Timur Tengah bisa memengaruhi kehidupan jutaan orang di seluruh dunia.

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *