Breaking News

Mbah Sumi

Oleh : Widi Astuti

Namanya Mbah Sumi, usianya 76 tahun. Tubuhnya sudah bungkuk, tapi beliau sangat rajin mengikuti sholat jama’ah di masjid Dusun Kenalan. Bahkan biasanya beliau datang paling gasik diantara jamaah yang lain.

Setelah masjid tersambar petir pada tanggal 16 Januari, maka rumah Pak Dar dijadikan sebagai mushola untuk sementara waktu. Ruang tamu Pak Dar digelari sajadah. Dan Mbah Sumi tetap setia menjadi jamaah sholat tergasik di mushola semen tersebut.

Mbah Sumi juga rajin memasak untuk para tukang masjid. Setiap hari dia berada di dapur warga dusun yang digunakan untuk memasak selama proses renovasi masjid. Sosoknya yang paling sepuh, membuat saya langsung hapal padanya. Dan membuat saya ingin mengenalnya lebih dekat.

Dan betapa terkejutnya saya, ternyata keluarganya di Dusun Kenalan adalah Kristen semua. Hanya Mbah Sumi seorang yang muslim. Dia tinggal serumah dengan putrinya yang telah berpindah agama.

Aslinya Mbah Sumi adalah orang Boyolali dan seluruh keluarganya memeluk agama Islam dari lahir. Suatu ketika putrinya dipinang oleh seorang bujang dari Dusun Kenalan yang beragama Kristen. Tak berapa lama kemudian putrinya menikah dengan warga Dusun Kenalan tersebut.

Prosesi akad nikah dilakukan di rumah Mbah Sumi di Boyolali. Menantunya mengikrarkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam. Prosesi nikah dilakukan secara Islam. Sebuah hal yang sangat menggembirakan bagi Mbah Sumi karena menantunya mau memeluk Islam.

Tak berapa lama kemudian putrinya diboyong ke Dusun Kenalan. Dan Mbah Sumi diajak turut serta. Tentulah Mbah Sumi kaget dengan suasana Dusun Kenalan yang sangat berbeda dengan kampung halamannya.

Meskipun mengalami culture shock, tapi Mbah Sumi berusaha tetap menjalani kebiasaannya untuk sholat jamaah di masjid. Beliau menjadikan masjid sebagai obat kesepiannya di dusun nan dingin tersebut.

Di saat Mbah Sumi masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya, ternyata ada satu ujian lagi yang membuatnya nelangsa. Yaitu menantunya memutuskan kembali ke agamanya semula. Dan tak berapa lama kemudian putrinya yang lahir dan dibesarkan dari keluarga Islam ternyata memutuskan mengikuti agama suaminya. Mbah Sumi tinggal serumah dengan mereka. Alias dia sendirian yang memeluk Islam di keluarganya.

Meskipun memeluk Islam sendirian di keluarganya, tapi tak menggoyahkan imannya. Justru Mbah Sumi semakin rajin ke masjid. Dia selalu mengikuti apapun kegiatan di masjid. Tak hanya sholat jamaah tetapi juga pengajian.

Lokasi rumah yang ditempati Mbah Sumi lumayan tinggi. Sedangkan masjid berada di bagian bawah. Setiap hari Mbah Sumi naik turun ke masjid. Ketika kemarin saya mencoba rute yang dilalui Mbah Sumi setiap hari, ternyata saya menggeh-menggeh. Saya ngos-ngosan menaiki jalanan menanjak dan tak kuat. Saya hanya kuat nanjak sedikit.

Mengetahui fakta ini, saya angkat 4 jempol untuk Mbah Sumi. Ternyata lansia berusia 76 tahun itu lebih ethes dibanding saya. Dia begitu stroooonnggg meskipun tubuhnya bungkuk. Rasanya malu banget kalah sama lansia 🙈.

Biasanya Mbah Sumi datang gasik ke masjid sebelum adzan dikumandangkan. Tapi di tanggal 16 Januari (saat masjid tersambar petir), qadarullah Mbah Sumi belum berangkat ke masjid. Ini sebuah hal diluar kebiasaannya.

Dan begitu info masjid tersambar petir terdengar, seluruh jamaah masjid langsung teringat Mbah Sumi. Khawatir beliau terkena petir karena biasanya beliaulah yang paling gasik datang ke masjid.

Tapi syukur Alhamdulillah saat itu Mbah Sumi tidak datang ke masjid sehingga beliau selamat. Sebuah hikmah dari Alloh. Bahwa saat itu Alloh menahan langkah Mbah Sumi ke masjid agar terhindar dari sambaran petir.

Masya Allah, sosok Mbah Sumi ini luar biasa. Beliau adalah potret lansia yang teguh memeluk iman. Meskipun di rumahnya hanya dia seorang yang Islam tapi tak menyurutkan langkahnya untuk selalu menuju ke masjid.

Sehat selalu nggih Mbah Sumi

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *