Breaking News

Aslan Maskhadov

Pemerintah Rusia pernah menetapkan sayembara senilai 10 juta dolar bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi mengenai dirinya atau lokasi keberadaannya.

Beliau adalah seorang mujahid yang gigih, sabar, dan murah senyum; seorang militer yang ulung serta pemimpin jihad Chechnya: Sang Presiden yang syahid, Aslan Maskhadov—semoga Allah merahmatinya.

Ia adalah Presiden ketiga Republik Chechnya dan salah satu komandan tempur Chechnya yang terbesar. Ia memainkan peran krusial dalam kemenangan Chechnya pada Perang Chechnya Pertama, yang berujung pada berdirinya Republik Chechnya.

Ia meninggalkan kemewahan istana dan memilih hidup di gunung serta hutan sebagai seorang mujahid di jalan Allah. Ia memikul panji perlawanan dan jihad selama 11 tahun berturut-turut tanpa henti, baik saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata maupun kemudian sebagai Presiden Republik.

Saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, kontribusi Aslan Maskhadov dalam kemenangan pasukan Chechnya melawan tentara Rusia antara tahun 1994 dan 1996 melampaui kontribusi pejuang manapun di Chechnya.

Komandan yang dikenal dengan suaranya yang lirih ini berhasil mengoordinasikan para komandan lapangan Chechnya, terlepas dari segala kondisi berat tempat ia beroperasi. Ia juga berhasil mengubah pasukan yang terbatas dalam jumlah dan peralatan menjadi tentara yang mampu menghadapi tank, angkatan udara, dan artileri Rusia.

Sebagai ahli militer berpengalaman yang memukul mundur Rusia selama Perang Chechnya Pertama, Maskhadov memimpin pasukan Chechnya melawan pasukan pendudukan Rusia yang berupaya menguasai bekas republik-republik Soviet dan menundukkannya di bawah kekuasaan Rusia. Ia mampu memimpin tentara Chechnya dari satu kemenangan ke kemenangan lainnya melawan pasukan yang dikirim Moskow untuk menduduki Chechnya.

Akhirnya, pada tahun 1997, Maskhadov dan Presiden Rusia saat itu, Boris Yeltsin, menandatangani perjanjian yang digambarkan akan mengakhiri 400 tahun konflik antara Moskow dan wilayah Chechnya.

Namun, setelah pengepungan teater Rusia di Moskow pada bulan Oktober 2002, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa ia akan selalu menolak duduk di meja perundingan dengan para mujahidin. Putin kemudian melantik pemerintahan yang setia kepada Moskow di bawah pimpinan Akhmad Kadyrov (ayahnya Ramdan Kadyrov). Maskhadov mengancam akan menjangkau presiden baru yang pro-Moskow tersebut. Benar saja, pada bulan Mei 2004, mujahidin Chechnya melancarkan operasi pengeboman strategis yang menewaskan Kadyrov saat ia menghadiri upacara nasional di stadion Grozny.

Selama tahun-tahun perang yang panjang antara bangsa Chechnya di bawah pimpinan Maskhadov dan pendudukan Rusia, Moskow mengerahkan segala upaya untuk membunuh Maskhadov, namun ia berkali-kali lolos dari percobaan pembunuhan dan penargetan.

Hingga akhirnya Allah menakdirkan kesyahidan baginya pada tanggal 8 Muharram 1426 H (bertepatan dengan 8 Maret 2005 M) dalam sebuah operasi bersenjata yang dilakukan oleh pasukan khusus Rusia di utara ibu kota Grozny setelah mereka menemukan lokasi persembunyiannya. Mereka memintanya untuk menyerah, namun ia menolak dan memilih bertempur hingga akhir.

Dengan kepergiannya, tertutuplah satu lembaran dari para pemimpin besar jihad Chechnya yang telah memberikan teladan nyata di era modern akan ketangguhan, kesabaran, dan perjuangan para mujahidin di jalan Allah. Maskhadov telah mempersembahkan gambaran yang gemilang tentang jihad yang hakiki di zaman yang penuh ketundukan.

Semoga Allah merahmati sang pahlawan mujahid, dan semoga kedamaian Allah menyertai rohnya yang suci. (Turkenesia)

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *