Breaking News

Dunia Tak Runtuh Kerana Kurangnya Iman

Oleh : Davy Byanca

Sahabat sufiku.
“MEREKA MEMUJI Tuhan di hari Minggu, lalu menjadi Iblis bagi sesamanya di hari Senin”, begitu yang diucapkan oleh klienku saat bertemu di kantor. Pria ini adalah General Manager dari sebuah korporasi besar yang dipecat lantaran untuk kesekian kalinya menolak menandatangani dokumen perbankan dan perpajakan perusahaannya yang telah direkayasa oleh Direksi atas perintah pemilik. Pemilik perusahaan yang dimaksud, dikenal sebagai seorang yang aktif di Gereja, dermawan dan suka berceramah di gereja miliknya setiap hari Minggu. “Ini pertaruhan Bang, sudah bagus jika nyawa saya tidak melayang jika Boss besar tahu saya menggugat”, katanya. “Tetapi saya akan tetap berjalan terus, sudah terlalu banyak korban penzaliman yang dialami oleh karyawan di sana. Tapi tidak terekspos kerana takut, konon teman-temannya Boss banyak yang jenderal”. Aku minta kepadanya untuk mengumpulkan sebanyak mungkin dokumen yang ia miliki, termasuk mereka yang berani menjadi saksi di pengadilan kelak.

PRIA INI akhirnya berani memutuskan untuk ‘melawan’ kerana ia merasa telah memberikan seribu kebaikan kepada perusahaan, yang ternyata tak juga menjadikannya sebagai malaikat. Tapi hanya dengan satu kesalahan yakni -menolak surat laporan keuangan rekayasa, membuat dirinya dinilai selayaknya iblis oleh Boss Besar dan para penjilatnya. “Itulah hukum kehidupan yang berlaku di dunia ini. Tapi ke depan, kita akan masuk ke ranah hukum positif yang sesungguhnya Pak”, kataku kepadanya. Kita faham bahwa, hidup itu ibarat timbangan yang sensitif. Seribu kebaikan bisa tak cukup untuk menutupi satu kesalahan. Jangan pernah berpikir, setiap kebaikan kita akan selalu diingat. Kerana mereka di luar sana lebih cenderung mengingat kesalahan orang lain daripada kesalahan dirinya. Tak ada yang datang secara kebetulan. Setiap jiwa yang kita temui sudah tertulis dalam takdir kita; entah itu hadir untuk memberikan kita pelajaran hidup, hikmah, menyembuhkan, menghukum, mengkhianati atau mencintai kita. Tak ada yang namanya kebetulan dalam hidup. Setiap orang yang kita temui, setiap kejadian yang kita alami, semuanya sudah tertulis dalam takdir kita.

SAAT MENDAPATKAN masalah yang sama dengan yang dialami klienku ini. Banyak orang yang bermain aman, mereka memilih diam, kerana tidak ingin terlibat atau memperkeruh suasana. Padahal kita tahu, tak semua yang terlihat itu benar, dan tak semua yang diam itu salah. Allah tahu siapa yang tulus, dan siapa yang hanya pandai menilai dari luar. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada”. Qs al-Mulk: 13. Allah tahu isi hati kita, bahkan sebelum kita menjelaskannya. Kusampaikan ayat ini kepadanya, walau ia beragama Katolik, seraya berkata, “Bapak tak perlu menjelaskan kepada dunia, cukuplah Allah yang tahu isi hati bapak. Sebab penilaian manusia hanya sementara, tapi penilaian Allah selamanya”. Bapak ini kesal kerana sehari setelah pemecatan dirinya, berita yang tidak benar beredar di media online secara masif. Itu kerana Boss Besar juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang media.

BEGITULAH. BAGIKU, dunia tak runtuh kerana kurangnya iman, tapi kerana manusia berhenti berpikir atas nama iman. Klienku hadir, berjuang membela hak-haknya atas dasar iman. Kerana tak ingin terjebak dalam arus permainan kotor perusahaan. Perjuangan adalah denyut kehidupan itu sendiri, sebuah perjalanan yang menuntut manusia keluar dari zona nyaman menuju batas kemampuannya. Ia bukanlah sekadar proses mencapai tujuan, melainkan proses menjadi: bagaimana seseorang menempa dirinya di tengah luka, penolakan dan ketidakpastian. Aku ingat Buya Hamka bilang, “Jangan takut jatuh, kerana yang tidak pernah memanjat, tidak akan pernah mengerti arti perjuangan”.

Sekian.

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *