Breaking News

Sambal Bupati

Oleh: Joko Intarto

Saya kehilangan kawan baik: Pak Nasir, pemilik warung makan ayam goreng yang sukses menjadi bupati Demak. Inalillahi waina ilaihi rojiun.

Kabar duka itu dikirimkan adik saya wartawan portal berita ‘’Muria News’’, Kudus., tadi siang. ‘’Bukannya Pak Nasir sudah meninggal pada saat pandemi Covid-19?’’ tanya saya.

‘’Itu salah informasi. Yang benar, Pak Nasir meninggal dunia tadi pagi,’’ jelas adik saya,

Perkenalan saya dengan Mohammad Nasir terjadi di embarkasi haji Bandara Adi Soemarmo, Solo, tahun 2001. Itulah pertemuan pertama antara rombongan calon jamaah haji Grobogan dan Demak. Pak Nasir, begitu panggilannya, didapuk menjadi ketua kelompok terbang (kloter) terakhir yang anggotanya gabungan dari Grobogan dan Demak itu.

Dari perkenalan itu, saya tahu: Pak Nasir berprofesi sebagai guru agama di sekolah dasar. Selebihnya, saya hanya tahu: Pak Nasir seorang ahli kuliner. Menurut saya, Pak Nasir adalah pencipta resep sambal paling top.

Saya pertama kali mencicipi kelezatan sambal Pak Nasir ketika makan siang di maktab setelah menyelesaikan semua prosesi ibadah haji. Dalam kondisi bosan dengan menu makanan Arab yang ‘’itu-itu saja’’, Pak Nasir ‘’ujug-ujug’’ menawari makan siang dengan lauk ayam panggang yang dibeli dari dari warung Turki, tetapi dicocol sambal yang dibawanya dari Tanah Air.

Anda pasti sepakat: Sambal ayam goreng Mbok Berek Nyonya Suharti itu superlezat. Nah, sambal ayam goreng ciptaan Pak Nasir bisa dibilang satu atau dua level di atasnya.

Apa rahasia di balik kelezatan sambalnya? Ternyata, karena proses pembuatan sambal itu memang istimewa. ‘’Sambal itu baru boleh dikonsumsi setelah diproses selama 30 hari,’’ kata Pak Nasir.

Ternyata bukan hanya saya yang memuji sambal ciptaan Pak Nasir. Setiap saya mampir ke warung Mbak Tari, selalu ada pengunjung yang hanya membeli sambal untuk dibawa pulang. ‘’Kami memproduksi sambal hingga 100 Kg per hari,’’ tutur Pak Nasir saat itu.

Pada saat pandemi Covid-19, saya sempatkan waktu untuk makan siang di Warung Mbak Tari. Ternyata warung di dekat alun-alun itu sedang tutup. Menurut cerita salah satu tetangganya, warung itu kurang terurus semenjak Pak Nasir terpilih menjadi bupati Demak.

Sayang sekali. Padahal, setiap hari warung tersebut menjual sedikitnya ayam goreng dan ayam bakar dari 600 ekor ayam jago.

Pak Nasir bercerita, yang menjadi pemasok ayam adalah anak sulungnya yang saat itu masih kuliah di bidang teknologi informasi. Untuk setiap satu ekor ayam, Pak Nasir memberi fee senilai Rp 1.000. ‘’Sebulan fee-nya Rp18 juta,’’ kata Pak Nasir.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur