Ilustrasi Ayah dan Anak

Anak Bohong (Bag. 1)

Ilustrasi Ayah dan Anak
Ilustrasi Ayah dan Anak

thayyibah.com :: Ayah dan anak hampir tak ubahnya seperti dua sisi uang logam. Begitu ayah, begitu pulalah anaknya. Begitu anak, begitu pulalah ayahnya. Keduanya sama-sama menunjukkan arah nilai yang sama. Tapi, seperti itukah kesepadanan seorang ayah ketika anaknya mulai berbohong?

Pertanyaan itu kerap menggelitik penasaran Pak Wawan. Bapak satu anak ini sedang bingung menafsirkan kelakuan anak tunggalnya. Apa iya anak usia tiga tahunan sudah bisa bohong. Masalahnya, korban bohong anak semata wayang Pak Wawan itu sudah merata seisi rumah: ayah, ibu, dan mbok Iyem.

Pernah, sang anak minta duit ke Pak Wawan. Awalnya, Pak Wawan curiga. Buat apa? Tapi, anaknya menjawab dengan meyakinkan, “Ibu nyuluh beli galam.” Saat itu juga, kecurigaan tergantikan dengan kebanggaan. Pak Wawan bersyukur pada Allah, betapa anaknya sudah tumbuh menggembirakan. Sayangnya, kebanggaan dan kegembiraan itu tak berlangsung lama. Isterinya menyangkal nyuruh beli garam. Jadi, buat apa duit itu?

Kalau Mbok Iyem punya pengalaman lain. Biasanya, ia dengan gampang menyodorkan makanan ke anak majikannya. “Makan ya, Nduk!” ucap Mbok Iyem merayu. Dan, si anak pun langsung menyantap. Tapi, kali itu agak beda. Entah kenapa, anak majikannya berujar, “Kata ibu, Dodo tak boleh makan dulu, Mbok. Pelut Dodo masih sakit. Dodo disuluh makan vitamin jeluk aja!” Kenyataannya, Mbok Iyem kecewa. Tak beda seperti yang pernah dialami Pak Wawan.

Berkali-kali Pak Wawan menelusuri jejak munculnya bohong itu. Tapi, hasilnya jauh dari memuaskan. Ia yakin tak pernah mengajarkan bohong. Begitu juga isterinya. Mbok Iyem juga ngaku tak pernah. Tetangga hampir tak mungkin. Masalahnya, anaknya jarang bermain keluar. Kalau pun keluar, selalu didampingi sang ibu atau Mbok Iyem. Teman sekolah? Anak tunggalnya masih terlalu muda masuk sekolah. Jadi?

Nah, itulah yang terus membuat pikiran Pak Wawan berputar tak menentu. Sulit menyumbat perilaku buruk anak kalau belum tahu sumber alirannya. Pak Wawan juga paham kalau jalan kekerasan bukan cara terbaik. “Rasanya nggak baik anak seusia itu diteror dengan atas nama disiplin,” ujar Pak Wawan ke isterinya.

Ungkapan itu keluar ketika melihat gelagat yang kurang pas dari isteri Pak Wawan. Mungkin karena panik, isterinya bicara keras ke Dodo. “Awas kalau bohong lagi, ibu cubit kamu!” Buat Dodo, ucapan ibunya itu tak ia tangkap sempurna. Dodo hanya menyorot kata ‘cubit’. Dan, dicubit itu sakit. Hasilnya, sang anak cuma diam. Lalu, menangis dengan tertahan.

Sebenarnya, kepanikan isteri dan juga Pak Wawan sendiri berangkat dari sebuah kesadaran. Bahwa, bohong anak merupakan bahaya laten yang mesti dikikis habis. Kalau dianggap sepele, suatu saat pohon bohong itu akan tumbuh besar. Buahnya pun siap menghasilkan biji yang akan jadi benih bohong baru. Hiii, mengerikan!

Pak Wawan ingat betul dengan pelajaran dari Rasulullah saw melalui haditsnya. Seorang mukmin mungkin saja bermaksiat. Tapi, ia tak mungkin berbohong. Nah, gimana mungkin bisa sukses mendidik anak menjadi mukmin sejati, kalau sejak kecil sudah jago berbohong.

Lagi-lagi, Pak Wawan pusing tujuh keliling. Apa yang jadi penyebab masalah anaknya. Memang, tidak tertutup kemungkinan datang dari tivi. Tapi, isterinya sudah teramat ketat mengawasi. Kalau ada yang nggak beres, langsung dicuci bersih. Lalu, dari mana, dong?

Ada hal yang membuat risau Pak Wawan. Sebenarnya, ia lebih dekat dengan Dodo ketimbang isterinya. Isterinya terlalu kaku buat Dodo yang lincah dan supel. Dan yang paling tak diminati Dodo, ibunya gampang marah. Mudah emosi. Sebentar-sebentar cubit.

BERSAMBUNG

About A Halia