Sabar terhadap Istri

pasangan1
thayyibah.com :: Suatu hari, ada seorang laki-laki datang ke rumah Umar bin Khattab. Setelah diizinkan masuk, laki-laki itu melihat keadaan sekeliling rumah. Lalu, laki-laki itu minta izin untuk pergi melanjutkan perjalanannya, namun laki-laki itu kembali lagi.

Umar bin Khattab pun heran melihat perilaku laki-laki itu. Kemudian, Umar mengutus pembantunya dan meminta agar laki-laki itu datang ke hadapannya.

Setelah itu, Umar bertanya kepada laki-kaki itu, “Untuk apa kamu datang kemari? Mengapa kamu kembali lagi kemari padahal kamu telah diizinkan pergi?”

Laki-laki itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, tadinya aku bermaksud mengadu kepadamu tentang perlakuan istriku terhadapku. Tetapi, setelah aku mendengar suara istrimu yang keras sedang kamu tidak memarahinya maka aku mengurungkan niatku itu. Dan, dalam hati aku berkata, ‘Jika seorang Amirul Mukminin saja mampu menahan marah menghadapi perilaku istrinya maka tentu aku harus bisa sabar menghadapi perilaku istriku‘.”

Kemudian Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak sabar terhadap istriku sedangkan ia yang memelihara anak-anakku, mempersiapkan kebutuhanku, dan mencuci pakaianku?” Mendengar komentar Umar tersebut, laki-laki itu menyadari kebaikan-kebaikan yang telah diberikan istrinya kepada dirinya.

Kisah di atas telah memberikan pelajaran (ibrah) berharga kepada kita para laki-laki (suami) agar dapat sabar dalam menghadapi tabiat atau perangai dari seorang istri.

Abu Hurairah RA mengabarkan, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR Muslim).

Secara tegas Alquran memerintahkan kepada para laki-laki (suami) untuk tetap menghiasi diri dengan sifat sabar dalam menghadapi perangai istri.

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan, bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa [4]: 19).

Dengan bersabar terhadap segala perangai, tabiat, kekurangan, dan keterbatasan istri maka pasti akan ada kebaikan setelahnya karena Allah akan memberikan pahala kepada orang yang sabar dan tidak pemarah.

Oleh karena itu, sepasang suami istri hendaknya senantiasa memelihara bahtera rumah tangga dengan saling memperbaiki kesalahan masing-masing, saling memberi nasihat-menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran, serta memelihara harmonisasi di antara keduanya.

Oleh: Imam Nur Suharno

About A Halia