Breaking News

Haji Merah Melawan Kristenisasi

Oleh: Arif Wibowo

Dulu, sebelum Orde Baru, kata teman saya, jalan di Kauman yang ada di sebelah Barat BCA Gladag itu bernama Jalan Kyai Misbcah. Orde Baru tidak suka itu, makanya diganti.

H. Misbach memang sosok yang menarik untuk digali kehidupannya. Pikiran dan dan juga tindakannya, bisa digunakan untuk memotret konteks sosial politik dan ekonomi masyarakat pada masa itu.

Kehadiran Muhammadiyah di Solo kata Shiraishi tidak bisa dilepaskan dari organisasi Sidik Amanah Tabligh Vathonah (SATV) yang berdiri tahun 1918 dimana Haji Misbach sebagai salah satu tokoh utamanya. Pada tahun 1922, SATV menyatakan diri sebagai afdelling Surakarta dari Muhammadiyah.

Tahun-tahun itu adalah tahun dimana lembaga zending dan misi aktif melakukan penginjilan sosial, sehingha aktifitas utama Muhammadiyah Surakarta meliputi hal yang sama dengan lembaga zending dan misi, yakni pendirian sekolah, rumah yatim dan klinik kesehatan.

Namun kontestasi tidak hanya pada layanan sosial. Karena Solo sebagai pusat pergerakan, keberadaan media massa menjadi salah satu ciri dari pertarungan antara Misi Kriaten dengan Dakwah Islam di Masyarakat.

Media yang menjadi corong Zending adalah Mardi Raharjo. Dalam salah satu terbitannya, Mardi Raharjo memuat sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang Nabi, sebab ia tidak bisa menulis dan membaca.

Selain itu ada surat kabat lain, yaitu Djawi Kondo dan Djawi Hisworo memuat iklan yang menjual poster gambar wajah Nabi Muhammad.

Menanggapi hal itu, H. Samanhudi mengirim telegram kepada perwakilan Turki di Welterdreven, bertanya apakah dalah sejarah wajah Nabi Muhammad pernah digambar ? Jawabannya, tidak pernah sekalipun.

Tidak behenti pada dua penghinaan tersebut, muncul sebuah artikel di surat kabar Djawi Hisworo pada 11 Januafi 1918 yang menyebut Nabi Muhammad itu meminum Ciu AVH dan memakai Candu.

Tulisan-tulisan itu menimbulkan amarah di kalangan umat Islam Solo. Apalagi surat kabar Mardi Rahardjo tidak dijual tapi dibagikan gratis ke masyarakat. Jadi kelakuannya nggak beda dengan Saksi Jehovah, era sekarang, yang hobi bagi-bagi brosur dan majalah ke umat Islam.

Dan untuk menjaga kehormatan agama Islam serta kaum pribumi inilah, Haji Misbach menerbitkan Majalah Islam Bergerak untuk melawan kristenisasi dan menjaga kehormatan bumiputera,sebab majala yang sudah ada, Medan Moeslimin punya fokus lain.

“Islam-Bergerak diterbitkan boekan kerana kekoeatannja kapitaal, tetapi Islam-Bergerak di terbitkan kerana dari pada kekerasan hati toean-toean jang soenggoeh memperhatikan tentang pergerakan kita kaum Moeslimin, akan mentjahari kemadjoean bangsa dan berdaja oepaja agar Igama kita Islam tinggal tetap selama lamanja pada kita kaum Moeslimin, djangan sampai kita moeslimin goegoer hatinja lantaran tergoda oleh anti Islam jang pada masa ini lagi asik melakoekan roepa-roepa godaannja.'”

Karenanya, saya sempat bertanya kepada teman saya, kok foto Haji Misbach tidak ada dalam deretan foto-foto tokoh Muhammadiyah Solo.

Apakah tekanan Orde Baru atau faktor Misbah yang mencoba mengawinkan Islam dengan pergerakan komunis ?

Misbach banyak berubah setelah bertemu Ciptomangunkusumo, jawab teman yang lain. Saya sendiri belum mendalami perubahan apa yang dimaksud.

Akan tetapi, menghapus sejarah Misbach dari ingatan generasi muda Islam sekarang adalah kerugian cukup besar. Sebab, selain kehilangan wajah Islam yang melawan ketidakadilan dan penyebaran agama nir etika, kita juga menjadi gagap menangkap dinamika keagamaan yang tensinya cukup tinggi di kota Surakarta.

About Darso Arief

Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *